Breaking News
  • BI: penurunan suku bunga mendorong intermediasi perbankan
  • BI: penurunan suku bunga sudah perhitungkan FFR
  • Perusahaan China bidik sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia
  • Petambak Lombok berpenghasilan Rp20 juta per bulan
  • Tiga BUMN kembangkan pelabuhan dukung Tol Laut

REGIONAL Budaya Literasi Kembali Dirintis di Desa Mukusaki-Ende 31 Aug 2017 07:48

Article image
Dapat donasi tas sekolah. Taman baca Ngai Sia. (Foto: Guche)
Berdirinya taman baca "Ngai Sia Mukusaki" menjadi salah satu wadah penyaluran minat baca dan tulis bagi anak-anak selain pendidikan formal yang diperoleh di bangku SD maupun PAUD.

ENDE, IndonesiaSatu.co -- Upaya membangkitkan budaya literasi lewat kegiatan membaca dan menulis bagi generasi anak-anak kembali digalang di desa Mukusaki, kecamatan Wewaria, kabupaten Ende.

Berdirinya taman baca "Ngai Sia Mukusaki" menjadi salah satu wadah penyaluran minat baca dan tulis bagi anak-anak selain pendidikan formal yang diperoleh di bangku Sekolah Dasar maupun Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Dikonfirmasi IndonesiaSatu.co pada Rabu (30/8/2017), Herry Se selaku anak muda yang menggagas terbentuknya taman baca Ngai Sia bagi anak-anak Mukusaki mengatakan bahwa berdirinya taman baca tersebut merupakan inisiatif dan swadaya beberapa pihak guna menumbuhkan semangat belajar bagi anak-anak.

"Anak-anak perlu diarahkan pada hal-hal dan aktivitas edukatif sehingga menumbuhkan semangat untuk membaca dan menulis dengan metode yang menyenangkan mereka. Banyak sekali kesempatan yang dilewatkan oleh anak-anak dengan bermain tanpa ada bimbingan khusus setelah jam sekolah. Padahal, jika anak-anak terus dibimbing dan diarahkan pada aktivitas membaca dan menulis sejak dini, maka anak-anak akan mengenal budaya literasi dan mengalihkan waktu bermain dengan membaca dan menulis," kata Herry.

Herry menilai, perkembangan dunia pendidikan yang mulai mengandalkan kemajuan informasi dan teknologi, tidak serta-merta mengabaikan kemampuan alamiah anak-anak dalam membaca dan menulis secara baik dan benar.

"Jika anak-anak mulai diperkenalkan dengan teknologi, mentalitas dan psikologi anak pun turut terbentuk dengan tuntutan teknologi. Anak-anak mulai lupa jam belajar, latihan menulis dengan tangan, belajar dari buku catatan sendiri maupun giat dalam kelompok belajar. Sebaliknya, anak-anak mulai diarahkan pada internet, komputerisasi hingga kebiasaan menggunakan media sosial. Modernisasi tidak mesti mengabaikan tahap pendidikan dasar bagi anak-anak. Kemampuan alamiah harus ditumbuhkembangkan sehingga anak-anak dapat mengenal dan melatih diri sejak dini. Budaya membaca dan menulis sesungguhnya bukan hal baru dan asing bagi anak-anak. Jangan sampai hal itu diabaikan atau disepelekan," nilainya.

Meski baru berdiri lima tahun terakhir, taman baca Ngai Sia Mukusaki berhasil menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak. Dalam sepekan, anak-anak dijadwalkan tiga kali mengunjungi taman baca lewat bimbingan dan metode belajar secara terpimpin.

"Anak-anak begitu antusias ketika diarahkan dan dituntun secara baik. Banyak hal positif yang mereka peroleh terutama peningkatan kemampuan belajar, daya ingatan, perubahan sikap serta semangat untuk terus dibimbing dan dibina. Dengan segala kepolosan dan ketulusan, anak-anak memiliki harapan. Orang tua, pendidik dan terutama lingkungan harus menjadi tempat yang aman bagi kultur belajar anak-anak," tuturnya.

Guna membantu perkembangan dan peningkatan animo belajar anak-anak lewat taman bacaan Ngai Sia, Herry mengharapkan kerjasama dan kontribusi berbagai pihak lewat donasi buku-buku, sarana-prasarana belajar maupun fasilitas pendukung.

"Sejauh ini kami bekerjasama dengan Remaja Mandiri Community (RMC) Detusoko yang sudah banyak membantu lewat donasi buku, alat tulis dan tas sekolah setelah bekerjasama dengan Standarpen Indonesia. Pendidikan merupakan tanggung jawab sosial sehingga diharapkan kerjasama berbagai pihak. Anak-anak adalah generasi masa depan sehingga pendidikan sejak dini perlu dibekali sebaik mungkin," tandasnya.

 

-- Guche Montero

Komentar