Breaking News

HUKUM Fakta Sidang Kasus NTT Fair, Lebu Raya Ikut Terima Uang 30 Oct 2019 17:33

Article image
Mantan Gubernur NTT Frans Lebu Raya. (Foto: Floresa.co)
Jaksa penuntut umum (JPU) Hendrik Tiip sangat yakin mantan Gubernur NTT Frans Lebu Raya juga menerima aliran uang dari proyek NTT Fair.

KUPANG, IndonesiaSatu.co – Proses hukum kasus korupsi proyek NTT Fair terus bergulir. Saat ini kasus tersebut sedang disidang di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Kupang dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi

Jaksa penuntut umum (JPU) Hendrik Tiip dalam keterangannya kepada wartawan mengatakan, berdasarkan dakwaan dan fakta-fakta persidangan sejauh ini, JPU yakin ada uang proyek NTT Fair yang mengalir ke mantan Gubernur NTT Frans Lebu Raya dan Sekretaris Daerah (Sekda) NTT Ben Polo Maing. Sekda Ben Polo Maing diduga menerima uang sebesar Rp 100 juta.

"Dengan pengembalian uang tersebut, jelas itu menambah keyakinan kami selaku JPU bahwa benar yang bersangkutan bersama mantan gubernur menerima uang," ujarnya Selasa (29/10/2019) siang.

"Dengan pengembalian uang tersebut, jelas itu menambah keyakinan kami selaku JPU bahwa benar yang bersangkutan bersama mantan gubernur menerima uang," tegasnya.

Hendrik seperti dilaporkan kumparan.com, sangat yakin mantan Gubernur NTT juga menerima aliran uang dari proyek NTT Fair. Sebab dari keterangan para saksi terdapat kesesuaian antara satu dengan yang lain. Juga ada kesesuaian antara keterangan saksi dengan barang bukti berupa transaksi keuangan dari Hadmen Puri (Direktur PT. Cipta Eka Puri) ke rekening giro milik Feri Jhons Pandi (Konsultan Pengawas).

"Keterangan-keterangan saksi tersebut ternyata nyambung dengan barang bukti sehingga lahirlah alat bukti petunjuk. Jadi alat bukti petunjuk didasari pada keterangan para saksi dan barang bukti," jelasnya.

Sesuai KUHAP, sebut Hendrik, alat bukti terdiri dari keterangan saksi, surat, keterangan ahli, keterangan terdakwa, dan petunjuk. Namun untuk menjerat seseorang (menetapkan seseorang sebagai tersangka, red), tidak harus memenuhi semuanya, melainkan cukup dua alat bukti.

"Sekarang sudah alat bukti petunjuk, jadi kami selaku JPU yakin bahwa itu sudah cukup untuk menjerat mantan gubernur dan sekda," jelasnya.

Hendrik menambahkan, dua alat bukti yang sudah mulai nampak lewat persidangan sejauh ini akan dipertegas lagi pada sidang berikutnya di tanggal 4 November mendatang.

Adapun para saksi yang akan dihadirkan dalam persidangan, yakni ajudan mantan Gubernur NTT, pegawai honorer selaku staf Sekda, dan pegawai honorer pada Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukinan (PRKP) Provinsi NTT yang tidak lain adalah bawahan dari terdakwa Yulia Afra.

"Jadi keyakinan terhadap alat bukti petunjuk itu akan kita buktikan pada persidangan. Kita sudah siapkan pemanggilan kepada para saksi. Sedangkan pak mantan gubernur, pak sekda dan Mr. Lee (suami terdakwa Linda Liudianto) akan kita hadirkan setelah sidang tanggal 4 November," katanya.

Hendrik mengatakan, seluruh fakta persidangan kasus NTT Fair akan disampaikan ke pimpinannya dalam bentuk nota dinas.

"Kita akan sampaikan fakta sidangnya. Nanti di situ pimpinan yang ambil keputusan, apakah mau perintahkan penyidik untuk proses lanjut atau seperti apa, tapi keyakinan kami selaku JPU, alat bukti sudah terpenuhi," ungkapnya.

--- Simon Leya

Komentar