Breaking News

OPINI Festival Literasi di Nagekeo Patut Diapresiasi 02 Oct 2019 10:39

Article image
Simon Sawa (tengah) asal Nangaroro, meraih Juara I Lomba Pantun Adat di Festival Literasi yang digelar di Mbay, Ibukota Kabupaten Nagekeo. (Foto: ist)
Kita menjadi terjitak secara intelektual bahwa upaya pencerdasan akal budi kita harus dimulai dari diri sendiri, berangkat dari rumah kita.

Oleh Valens Daki-Soo

 

CATATAN kecil ini saya tulis bukan karena om kandung saya, Bapak Simon Sawa dari Nangaroro, meraih Juara I dalam Lomba Pantun Adat di festival yang sangat marak digelar di Mbay, Ibukota Kabupaten Nagekeo. Mungkin istilah yang tepat bukan pantun adat, tetapi istilah "kadha" rupanya agak sulit diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Tentu, secara pribadi saya bangga karena Om Simon tampil prima, bertutur bahasa adat tanpa teks (sementara para peserta lainnya membaca teks), dengan untaian kalimat yang runtut, bernas, ada imbauan untuk hidup baik dan damai, membangun bersama Nagekeo tercinta, mengajak kaum muda untuk turut-serta mendorong kemajuan tanah leluhurnya. Kemampuan Om Simon memang merupakan salah satu "warisan genetis" dari leluhur kami yang antara lain adalah pemangku adat setempat.

Namun, yang membuat saya menulis nota pendek ini adalah rasa tergerak hati saya ketika menyaksikan acara Sabtu (28/9/2019) malam itu yang antara lain diisi dengan tampilan para pelajar SMP dalam tarian adat, nyanyian, lalu lomba pidato. Saya terkesima dengan pidato para orator cilik itu yang mengangkat 'tema akbar' seperti nasionalisme, patriotisme, dan sebagainya. Mereka fasih bicara tentang bangsanya, dan saya tidak tahu apakah mereka hanya menghapal atau sungguh menghayatinya, tetapi saya mendengar ujaran-ujaran mereka memberi kita harapan: kita punya tunas-tunas muda yang potensial, calon-calon kader bangsa.

Saya tidak sempat mengikuti seluruh rangkaian acara dalam festival tersebut, namun saya memetik, antara lain, satu hal penting. Hal itu adalah upaya untuk membangkitkan kesadaran budaya; suatu kesadaran bahwa kita "punya kekayaan budaya" tapi dalam derap modernisasi zaman ini kita mudah melupakannya. Saya selalu kagum dengan Jepang yang begitu maju sains dan teknologinya, namun serempak bisa tetap merawat nilai-nilai budayanya, tetap menjiwai seluruh kehidupan mereka sebagai satu bangsa dengan warisan budaya yang agung adiluhung.

Meraih kejayaan material melalui pembangunan fisik tidak perlu dengan mengabaikan atau menelantarkan pembangunan karakter bangsa (nation and character building). Kita perlu belajar membangun secara komprehensif-integral, pembangunan multiaspek dalam strateginya, meski tentu saja secara teknis tetap perlu menjatuhkan pilihan pada bidang-bidang mana yang perlu dijadikan prioritas sebagai "leading sector" atau "prime mover".

Oleh karenanya, meski saya membaca adanya "kritik di sana-sini tentang kelemahan di sini-sana" terkait festival tersebut, saya tetap mengapresiasi prakarsa dan upaya menggelar rangkaian acara tersebut. Kritik diperlukan untuk menjaga agar festival literasi itu tetap dalam bingkai tujuannya, tidak meluber ke mana-mana sehingga melemahkan substansinya. Kritik juga diperlukan sebagai rambu pengingat agar kegiatan semacam ini tidak keluar dari alur maksud penggelarannya. Kritik  dibutuhkan pula sebagai "alarm" dan kontrol sosial terhadap festival ini agar benar-benar membantu literasi masyakat kita. Misalnya kita menjadi tahu atau sadar bahwa selama ini kita kurang ber-"budaya baca". Kita menjadi terjitak secara intelektual bahwa upaya pencerdasan akal budi kita harus dimulai dari diri sendiri, berangkat dari rumah kita.

Benar, festival ini saja tidak cukup. Perlu ditindaklanjuti atau diwujud-nyatakan dalam dan melalui berbagai program yang lebih sistemik dan kontinyu, agar tingkap kesadaran publik sungguh terbuka tentang perlunya pembangunan multiaspek yang mampu mengubah kondisi dan taraf hidup rakyat. Festival hanya tinggal festival jika, misalnya saja, kita tidak tergerak untuk lebih rajin membaca, juga lebih cerdas dan bijak berbagi untuk sesama (termasuk melalui medsos semacam ini).

Soal kritik tentang biaya festival yang dinilai besar (kalau tidak salah Rp 2 miliar koma sekian), itu tergantung pada seberapa penting kita melihat pentingnya gerakan penyadaran (konsientisasi) sosial-budaya itu. Benar, bahwa membangun jembatan, jalan atau infrastruktur apapun penting dan sangat dibutuhkan di Nagekeo. Namun, itu tidak berarti membangun aspek lain seperti kesadaran sosial-budaya kurang penting. Aspek mental spiritual pun tetap perlu dibangun. Jangan lupa, rejim Soeharto "tampak" sukses membangun aspek fisik-ekonomis, namun rapuh basis sosio-kulturalnya. Lagipula, soal air minum dan jalan raya tetap ada kebijakan dan alokasi  anggarannya.

Poin saya, tidak perlu saling membenturkan atau saling meniadakan aspek fisik-ekonomis dengan aspek sosial-budaya. Manusia tidak hanya merupakan "zoon politichon" (binatang politik), "homo economicus" (manusia ekonomi). Manusia juga adalah "ens culturale" atau makhluk (ber)budaya.

Intinya, dari kacamata saya, festival ini menggarisbawahi pentingnya berbagi nilai (sharing of values) dari kita, antar kita, dan untuk kita.

Maju terus, Nagekeo!!!

Berderaplah maju secara fisik dengan capaian ekonomi yang lebih benderang dan bermanfaat untuk rakyat, sambil tetap mendorong kemajuan aspek-aspek lain yang menunjukkan apa artinya berbudaya dan bermartabat.

 

Penulis adalah pendiri - Pemimpin Umum portal berita IndonesiaSatu.co

Komentar