Breaking News

INTERNASIONAL India Rayakan Kematian Empat Pemerkosa yang Ditembak Polisi 06 Dec 2019 20:20

Article image
Pemerkosaan dan pembunuhan seorang dokter hewan berusia 27 tahun di Hyderabad memicu kemarahan di India. (Foto: The Guardian)
Menurut polisi, ketika ditembak, para tersangka mencoba untuk merebut senjata para petugas dan berusaha untuk kabur.

NEW DELHI, IndonesiaSatu.co – Meskipun diwarnai kontroversi secara legal formal, namun rakyat India merayakan kematian empat pemerkosa disertai pembakaran. Tidak saja keluarga korban pemerkosaan, keluarga pelaku pemerkosaan bahkan membakar kembang api dan membagi-bagi permen sebagai tanda sukacita.

BBC Indonesia (6-12-2019) menulis, polisi India menembak mati empat orang tersangka pemerkosaan dan pembunuhan terhadap seorang dokter hewan perempuan di negara bagian Hyderabad minggu lalu.

Para tersangka sedang dalam tahanan polisi dan mereka dibawa ke tempat kejadian perkara untuk melakukan rekonstruksi pada dini hari Jumat (6/12/2019).

Menurut polisi, ketika ditembak, para tersangka mencoba untuk merebut senjata para petugas dan berusaha untuk kabur.

The Guardian melaporkan, empat penjahat yang menjalani proses rekonstruksi yakni Mohammad Areef, Jollu Shiva, Jollu Naveen, dan Chintakunta Chennakeshavulu.

Jenazah korban pemerkosaan, perempuan berusia 27 tahun ditemukan hangus, diduga dibakar para tersangka pada Kamis (28/11/2019). Peristiwa tersebut menyulut kemarahan dan protes kepada polisi yang dianggap tidak melakukan tindakan apa-apa.

Sesudah berita mengenai penembakan mati oleh polisi itu, ibu dari korban perkosaan menyatakan kepada BBC Telugu, "Keadilan telah ditegakkan" sementara para tetangga merayakan dengan menyalakan kembang api.

Ribuan orang turun ke jalan sembari memuji tindakan polisi itu. Namun pengamat hukum mengkritik tindakan polisi sekalipun tak menyatakan tindakan polisi itu adalah pembunuhan ekstra yudisial.

 

Penembakan oleh polisi

Polisi membawa empat tersangka ke tempat kejadian perkara untuk melakukan rekonstruksi, demikian menurut komisioner polisi Cyberabad VC Sajjanar kepada BBC Telugu.

Lokasi berada di Cyberabad, kota di pinggiran Hyderabad, yang merupakan lokasi perusahaan teknologi global seperti Microsoft dan Google.

Lokasi pemerkosaan dan pembunuhan, serta pembakaran korban, terletak di dekat jalan tol di Cyberabad.

N Prakash Reddy, wakil komisaris polisi di Shamshabad, mengatakan: “Di pagi hari, sekitar pukul 6-6.30, orang-orang kami datang untuk merekonstruksi tempat kejadian kejahatan dan terdakwa berusaha merebut senjata mereka. Keempat tersangka telah meninggal. Dua polisi telah terluka.

Polisi mendapat kritik keras sehubungan dengan pemerkosaan yang disertai pembunuhan ini. Keluarga korban menuduh bahwa polisi tak melakukan apa-apa selama dua jam saat pertamakali korban dilaporkan hilang.

 

Reaksi keluarga korban

Wartawan BBC Telugu, Deepthi Bathini mengunjungi keluarga korban di rumah mereka, dan terlihat tetangga merayakan kematian para tersangka dengan menyalakan kembang api dan membagi-bagikan permen.

"Saya tak bisa berkata-kata. Saya merasa bahagia, tapi juga duka karena anak saya tak akan pernah pulang ke rumah lagi," kata ibu korban pemerkosaan.

"Jiwa putri saya sudah damai sekarang. Keadilan sudah ditegakkan. Tak saya sangka bahwa keadilan akan datang. Tak boleh ada lagi perempuan mengalami apa yang dialami oleh putriku."

Si ibu juga menambahkan ia ingin hukuman lebih berat untuk pelaku serangan seksual dan pemerkosaan.

"Laki-laki harus takut dengan hukuman, bahkan sekadar menatap perempuan," katanya.

Saudari dari korban menyatakan tindakan polisi ini "sangat tak terduga".

"Saya berharap ada sidang pengadilan dan lewat itu keadilan akan ditegakkan. Itu tak akan mengembalikan kakakku, tapi tetap lega rasanya. Karena ada tindakan polisi, orang akan berpikir dua kali sebelum melakukan hal seperti ini lagi," katanya.

 

Reaksi publik

Berita mengenai tindakan polisi ini dirayakan di media sosial. Banyak yang menyatakan pujian mereka terhadap polisi di Twitter dan Facebook yang menurut mereka telah "menegakkan keadilan".

Ibu dari pelajar yang sempat jadi korban pemerkosaan massal dan pembunuhan dalam bus di New Delhi pada tahun 2012 juga memuji tindakan polisi menembak mati para tersangka itu.

"Saya sangat gembira dengan hukuman ini. Polisi telah menunaikan tugas dengan sangat baik," katanya kepada kantor berita ANI.

Wartawan BBC Telugu Satish Balla melaporkan dari lokasi penembakan sekitar 2.000 orang berkumpul menyebabkan kemacetan luar biasa.

Kendaraan terhenti di jalan tol, dan orang-orang berada di jalan sambil bersorak-sorai memuji polisi.

Di tempat kejadian perkara, mereka juga menabur kelopak mawar dan membagikan permen kepada polisi.

 

Kontroversi hukum

Beberapa kalangan mempertanyakan penjelasan versi polisi terhadap penembakan itu.

Prakash Singh, seorang pensiunan polisi dan arsitek reformasi kepolisian India, mengatakan kepada BBC bahwa penembakan mati itu "sepenuhnya bisa dihindarkan".

"Polisi perlu sangat waspada ketika membawa tahanan ke pengadilan atau ke tempat kejadian perkara," katanya.

"Mereka harus diamankan, diborgol dan digeledah sebelum dibawa keluar tahanan. Segala hal bisa terjadi jika polisi tidak berhati-hati."

Namun Singh mengatakan terlalu cepat menyebut peristiwa ini sebagai pembunuhan ekstra yudisial oleh polisi - dikenal di India dengan sebutan "encounter killing", yaitu membunuh tersangka dalam 'bentrokan' dengan polisi.

Beberapa hari sesudah pemerkosaan dan pembunuhan terjadi, ribuan orang melakukan protes di kantor polisi Hyderabad menuntut agar tersangka dihukum mati.

Jaya Bachchan, seorang bekas bintang film Bollywood yang kini menjadi anggota parlemen di India mengatakan para tersangka itu seharusnya "digantung".

"Memang terdengar kejam, tapi orang-orang seperti ini harus dibawa ke depan umum dan digantung," katanya dalam debat di parlemen terkait insiden pemerkosaan.

Beberapa anggota parlemen dari berbagai partai politik juga mengutuk keras pemerkosaan massal disertai pembunuhan yang brutal ini.

Di kota-kota lain di India, protes dan renungan terjadi untuk mengenang korban, yang tak bisa kami sebutkan namanya karena alasan hukum.

Kronologi pemerkosaan

Korban meninggalkan rumah dengan sepeda motor sekitar pukul 18.00 waktu setempat, sepuluh hari lalu, untuk berobat ke dokter.

Di tengah jalan ia menelepon keluarganya mengatakan ban motornya kempes, dan seorang supir truk menawarkan bantuan. Ia mengatakan menunggu dekat jalan tol.

Upaya keluarga untuk mengontak si korban tak berhasil, dan jenazahnya ditemukan di kolong tol oleh seorang tukang susu hari Kamis 28/11 pagi.

Minggu lalu tiga petugas polisi dijatuhi skorsing ketika keluarga korban menuduh mereka tidak bertindak cepat ketika melaporkan si korban hilang ke polisi.

Seorang keluarga korban mengatakan kepada Komisi Nasional Perempuan bahwa petugas-petugas itu mengatakan si korban mungkin saja cuma kabur dari rumah.

 

Keamanan perempuan di India

Pemerkosaan dan kekerasan terhadap perempuan sudah menjadi perhatian di India sejak terjadinya pemerkosaan massal dan pembunuhan terhadap seorang perempuan pada Desember 2012 dalam sebuah bus di ibukota, Delhi.

Namun tak ada tanda bahwa kekerasan terhadap perempuan mereda.

Menurut pemerintah, polisi mencatat 33.658 kasus pemerkosaan di India tahun 2017, rata-rata 92 setiap hari.

--- Simon Leya

Komentar