Breaking News

REGIONAL Julie Laiskodat: Generasi Muda Jangan Malu Gunakan Kain Tenun NTT 01 Nov 2019 20:15

Article image
Ketua Dekranasda Provinsi NTT, Julie Sutrisno Laiskodat berpose bersama beragam motif tenun ikat NTT. (Foto: Suara Pembaharuan)
"Saya semakin besar hati bahwa NTT akan bangkit dengan etos kerja para penenun yang menjadikan tenunan sebagai pekerjaan pokok, bukan sampingan,” ungkap Julie bangga.

KUPANG, IndonesiaSatu.co-- Ketua Dekranasda Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Julie Sutrisno Laiskodat meminta seluruh masyarakat NTT, khususnya generasi muda atau kaum milenial untuk tidak malu memakai kain tenun ikat asli NTT.

“Jangan malu mengenakan tenun ikat NTT. Mari kita semua pakai tenun ikat setiap hari untuk mempromosikan NTT,” ajak Julie saat diwawancara Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT, Jelamu Ardu Marius dan penyiar Radio Suara Verbum Kupang, Jane Kedang Salem, Rabu (30/10/19) seperti dilansir Sergap.id.

Diinfokan, saat ini Julie sedang berada di Kota Quito, Equador, Amerika Selatan dan sedang mengikuti festival budaya kerajinan tangan dan tenun yang setiap tahun digelar, termasuk festival buah dan sayuran. Sedangkan festival buah dan bunga akan digelar pada Februari 2020 mendatang.

Menurut Julie, pihaknya membawa serta empat penenun yang terdiri dari 1 penenun asal Kabupaten Flores Timur, 1 penenun asal kabupaten Sikka, dan dua penenun asal Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), yakni dari Ayotopas dan Boti.

“Masyarakat di Equador juga punya budaya menenun. Bahkan 400 tahun yang lalu mereka belajar tenun dari nenek moyang kita di NTT. Kalau kita di NTT menampilkan motif bunga, sotis dan ikat, mereka di Equador hanya ikat saja. Itulah perbedaan NTT dengan Equador,” beber Julie.

“Saya juga membawa 200 lembar tenun ikat warna alam untuk ditampilkan di Equador,” tambahnya.

Motif tenun ikat asal NTT, kata Julie, juga sangat variatif jika dibandingkan dengan yang ada di Equador. Karena itu masyarakat Equador sangat antusias dan mereka bertanya apa sebenarnya perbedaan motif tenun ikat NTT dengan Equador?

“Saya menjawab, selain kualitas tenun ikat, variasi motifnya juga lebih baik dan banyak jika dibandingkan dengan yang ada di Equador,” imbuhnya.

Julie mengaku, kehadirannya di Equador merupakan pengalaman perdana terutama dengan membawa para penenun asal NTT yang tidak pernah keluar dari daerahnya, apalagi ke luar negeri.

“Ini saya bawa mama-mama penenun yang tidak pernah ke luar apalagi keluar negeri. Nanti, kalau Pak Gubernur berkenan, pada Februari 2020 saya akan membawa serta anak-anak SMA atau SMK, agar mereka punya wawasan. Anak-anak ini punya potensi tapi tidak ada wadah,” komitnya.

Julie mengaku bahagia dan bangga karena Provinsi NTT memiliki banyak motif tenun ikat dan memiliki nilai cerita yang sangat tinggi.

“Sekarang saya ada di Equador dan saya bangga dengan motif tenun ikat NTT. Saya semakin besar hati bahwa NTT akan bangkit dengan etos kerja para penenun yang menjadikan tenunan sebagai pekerjaan pokok, bukan sampingan,” ungkapnya bangga.

Sementara Karo Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT menegaskan, kehadiran Julie di Quito Equador merupakan kesempatan yang baik untuk mempromosikan NTT.

“Apalagi di tahun 2020, Provinsi NTT telah ditetapkan oleh majalah di Amerika sebagai destinasi pariwisata  terbaik di dunia,” katanya.

“Kalau Pak Gubernur menetapkan pariwisata sebagai prime mover pembangunan ekonomi di Provinsi NTT, saya pikir hal itu sangatlah tepat. Karena NTT memiliki alam dan budaya yang berbeda dan luar biasa,” tegas Julie dan memastikan tahun 2020, Presiden Joko Widodo meminta Dekranasda NTT untuk ikut kegiatan di Dubai.

--- Guche Montero

Komentar