Breaking News
  • Kapolda resmikan Bhayangkara Papua Football Academy
  • Kemen-PUPR tingkatkan kapasitas pekerja konstruksi dengan sertifikasi
  • Presiden Jokowi bersarung "blusukan" ke Mal Mataram
  • Pusat Konservasi Elang Kamojang lestarikan populasi elang jawaPusat
  • Wamen ESDM kaji FSRU penuhi pasokan gas

MAKRO Kecepatan Birokrasi Penting untuk Adaptasi Perubahan Global 12 Sep 2017 09:02

Article image
Presiden menghadiri Seminar Internasional Ikatan Notaris Indonesia, di Bali Nusa Dua Convention Center, Bali, Jumat (8/9/2017) pekan lalu. (Foto: Ist)
Kuncinya ada pada kecepatan birokrasi, kecepatan perizinan dalam melayani investasi-investasi yang datang.

BADUNG, IndonesiaSatu.co -- Presiden Joko Widodo mengingatkan perubahan global sekarang ini begitu sangat cepatnya. Maka dari sisi pemerintah perlu kecepatan birokrasi, kecepatan perizinan dalam melayani investasi-investasi yang datang.

"Sekarang ini bukan negara besar mengalahkan negara kecil, tetapi negara yang cepat yang akan mengalahkan negara yang lambat. Negara yang cepat yang akan mengalahkan negara yang lambat,” katanya saat memberikan sambutan pada Seminar Internasional Ikatan Notaris Indonesia, di Bali Nusa Dua Convention Center, Bali, Jumat (8/9/2017) pekan lalu.

Kuncinya, sebut Presiden, ada di kecepatan birokrasi, kecepatan perizinan dalam melayani investasi-investasi yang datang. “Kuncinya ada di situ. Sekali lagi, negara yang cepat akan mengalahkan negara yang lambat. Jadi cerita kecepatan ini penting sekali,” tegas Presiden.

Presiden memberikan contoh di Indonesia baru berapa tahun ada internet, kita baru belajar di situ, sudah muncul mobile internet. Mobile internet ada, kita baru mau belajar, muncul lagi artificial intelligence. Kalau perubahan-perubahan ini tidak disadari, lanjut Presiden, Bangsa Indonesia akan sangat ditinggal oleh negara-negara lain.

Kalau tidak bisa mengikuti dan tidak bisa mengejar kecepatan perubahan-perubahan itu, lanjut Presiden, maka akan ditinggal. “Ini perubahan-perubahan yang begitu sangat cepatnya. Kalau kita tidak bisa mengikuti dan kita tidak bisa mengejar kecepatan perubahan-perubahan itu, ya kita akan ditinggal,” katanya.

Oleh karena itu, Presiden akan terus mendorong terjadinya reformasi besar-besaran yang mendasar, terutama untuk meningkatkan posisi Indonesia dalam peringkat ease of doing bussiness, yang hasilnya sudah kelihatan dari ranking 120, kemudian meloncat ke 106 di 2016, kemudian meloncat lagi sekarang di ranking 91. Meski ranking-nya meloncat sangat banyak, menurut Presiden, ranking 91, masih jauh karena target dirinya minimal itu 40.

Presiden mengaku sudah menyampaikan kepada Menteri, terserah yang diobrak-abrik, di eselon 1-nya, di eselon 2-nya, eselon 3-nya, eselon 4-nya.

“Yang tidak mau mengikuti arah reformasi birokrasi, silakan. Tetapi kita ingin semuanya dikerjakan dengan cepat, baik menyelesaikan regulasi-regulasi, peraturan-peraturan yang menghambat, maupun juga sistem-sistem yang masih menggunakan sistem-sistem lama,” tegas Presiden.

Menurut Presiden, saat ini ada momentum yang sangat bagus. Sekarang Indonesia sudah layak investasi. Ada kepercayaan internasional terhadap Indonesia, ada trust internasional. Yang kedua, lanjut Presiden,dari survei OECD, mengenai tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahnya, Indonesia saat ini berada pada ranking pertama di dunia untuk kepercayaan rakyat kepada pemerintahnya. “Momentum ini harus digunakan,” tegas Presiden.

--- Sandy Romualdus

Komentar