Breaking News
  • Kapolda resmikan Bhayangkara Papua Football Academy
  • Kemen-PUPR tingkatkan kapasitas pekerja konstruksi dengan sertifikasi
  • Presiden Jokowi bersarung "blusukan" ke Mal Mataram
  • Pusat Konservasi Elang Kamojang lestarikan populasi elang jawaPusat
  • Wamen ESDM kaji FSRU penuhi pasokan gas

LINGKUNGAN HIDUP Kembali ke Taman Eden 08 Aug 2017 17:27

Article image
Pulang ke Taman Eden, di sana ada keharmonisan dan cinta alam. (Foto: Ist)
Sebetulnya di sini bukan Allah yang mengusir manusia keluar dari Taman Eden, tetapi justru manusia yang mengusir dirinya sendiri karena pilihannya yang konsumtif-egostik.

Oleh Redem Kono

 

KERUSAKAN lingkungan kini terjadi di mana-mana. Imbas dari kerusakan lingkungan sekaligus indikatornya seperti banjir, longsor, kekeringan, polusi, pemanasan global dan lain-lain mengancam bukan hanya keberadaan manusia, tetapi ekosistem bumi. Kerusakan lingkungan yang massif ini membuat bumi mulai tidak nyaman didiami.

Persis situasi ini yang ditelaah secara mendalam oleh profesor Norman Wirzba dari Duke Divinity School dalam bukunya yang terkenal Food and Faith: a Theologhy of Eating (New York: Cambridge University Press, 2011). Norman menulis tentang bumi yang tidak layak lagi disebut sebagai rumah, kediaman (home). Jika ada kenyamanan, maka kenyamanan yang ada tampak artifisial.

Bertolak dari fakta kerusakan lingkungan, Norman mengatakan situasi yang dialami bumi saat ini adalah situasi pembuangan (moment of exiles). Bumi menjadi tempat persaingan dan pengasingan, tidak hanya secara fisik tetapi secara batin Ciri khas bumi yang berada dalam situasi pembuangan ini adalah mulai pudarnya rasa komunitas bersama yang memuat di dalamnya rasa persahabatan (2011: 72).

Pertanyaannya, di mana letak bumi yang ideal, atau secara negatif tidak diasingkan?  Dalam penelusuran biblis-teologis, Norman coba menjawab dengan mengibaratkan dunia yang ideal dengan “situasi Taman Eden” yang termaktub dalam Kitab Suci Perjanjian Lama umat Kristiani (2011: 28). “Situasi Taman Eden” ini yang menjadi patokan normatif Norman dalam menelaah situasi pembuangan manusia.

Di dalam Taman Eden, ada keharmonisan relasi horizontal dan relasi vertikal. Relasi horizontal yang harmonis itu mewujud dalam hubungan intersubjektif antara sesama ciptaan Tuhan, Di Taman Eden, hubungan sesama ciptaan berjalan sederajat, tidak saling mendominasi, dan tidak saling mencari keuntungan sendiri. Di dalam relasi itu ada panggilan untuk mengelola dan menjaga taman Eden (Kitab Kejadian: 2 : 15).

Relasi horizontal mencontohi teladan relasi Allah sebagai pencipta bumi dan segala dan isinya. Allah dalam cintanya yang tiada batas menjadi pencipta sekaligus teladan dalam jalinan relasi horizontal. Allah menjadi rujukan dalam menciptakan, menjaga, dan melanjutkan relasi horizontal tersebut. Berada dalam koridor teladan relasi ini akan memastikan situasi Taman Eden di bumi.

Relasi harmonis secara vertikal dan horizontal tersebut merupakan relasi ekologis yang menjaga keharmonisan persekutuan antarciptaan. Hidup dalam Taman Eden dengan relasi ekologis demikian akan memastikan lingkungan yang terjaga dan harmonis. Tidak ada sikap saling menghancurkan, menegasi yang lain karena hubungan yang setara.

Namun, karena kehendak bebas yang dianugerahkan Allah, manusia mulai bertindak di luar batas relasi yang diteladankan Allah. Privilese kehendak manusia menimbulkan kesalahan pertama, karena perilaku konsumtif alias makan (2011: 75). Tanpa menghindarkan larangan Tuhan, manusia mengonsumsi buah pengetahuan. Manusia melanggar batas relasi yang ditentukan, yang sekaligus menjadi awal perjalanan keluarnya dari Taman Eden.

Norman melanjutkan, manusia berjalan keluar dari Taman Eden berarti menempuh jalan sendiri yang mengingkari persekutuan harmonis dengan sesama ciptaan lainnya (dalam relasi horizontal), sekaligus dengan Allah sebagai patokan berelasi. Momen keluar dari relasi ini memasung manusia dalam ruang kesendiriannya, ruang hampa akan kehadiran ciptaan yang lain (2011: 83).

Berada dalam kesendirian membuat manusia tidak hanya merasa sepi, tetapi kalap. Ia larut dalam ruang pemujaan diri dengan ongkos peniadaan yang lain demi kemuliaan manusia. Sebetulnya di sini bukan Allah yang mengusir manusia keluar dari Taman Eden, tetapi justru manusia yang mengusir dirinya dengan pilihannya yang konsumtif-egostik. Keluarnya relasi manusia dengan dan dalam persekutuan harmonis mengucilkan manusia dalam lembah pencarian dan kerinduan tanpa batas akan pemujaan diri.

Kekalapan dalam situasi pembuangan mengantar manusia menciptakan krisis ekologis. Artinya, ia berusaha merusakkan relasi horizontal yang terjadi yang berakibat pada kerusakan lingkungan. Semua kerusakan ini disebut Norman sebagai “pembuangan ekologis” (ecological exiles) Pembuangan ekologis artinya penghancuran lingkungan yang ditandai dengan kerusakan lapisan gas yang melindungi atmosfer, kerusakan hutan, pemanasan global, kerusakan tanah, pencemaran udara dan air (2011: 79-82).

Lebih lanjut, Norman mengatakan keluarnya manusia dari Taman Eden itu karena adanya “amnesia (relasi) ekologis”. Manusia melupakan relasi ekologis yang ideal di Taman Eden karena sikapnya yang konsumtif-egoistik. Manusia yang ingat akan dirinya sendiri, keluar dari batas yang ditetapkan Allah lalu melupakan tugas dan tanggung jawabnya dalam komunitas relasi harmonis antarciptaan.

Bahayanya, amnesia ekologis dipelihara manusia sesuai dengan konteks zaman. Dewasa ini amnesia dihadirkan oleh kapitalisme dan industrialisasi dunia modern yang cenderung mendudukkan manusia sebagai subjek, sedangkan yang lainnya sebagai objek. Relasi subordinat dunia modern semakin mengasingkan manusia dari situasi Taman Eden.

Kembali ke Taman Eden  

Norman sepakat bahwa untuk mengakhiri kerusakan lingkungan manusia harus kembali ke Taman Eden. Namun, bagaimana caranya untuk sukses dalam perjalanan kembali? Norman mengatakan manusia harus kembali memiliki kesadaran ekologis (ecological awareness) agar dapat bangkit dari lembah keterlupaannya terhadap relasi ekologis asal.

Jalan kembali ke (situasi) alam semesta adalah jalan pulang ke persekutuan semesta, situasi di mana bumi menjadi rumah yang nyaman bagi semua ciptaan. Kesadaran ekologis didahului dengan sikap spiritual-batin yang oleh Paus Benediktus dalam Ensiklik Laudato Sie (2016) disebut sebagai pertobatan ekologis. Ada penyesalan, sikap salah, keinginan serta komitmen kuat untuk memperbaiki relasi ekologis yang telah dirusakaan manusia selama ini hingga menghancurkan lingkungan.

Kembali ke Taman Eden yang dimulai dari langkah spiritual pada gilirannya harus diwujudkan secara praktis dalam hidup sehari-hari. Langkah pertama adalah menghentikan penyebab struktural yang menyebabkan sekaligus mempertahankan amnesia ekologis. Selanjutnya, manusia dapat menyembuhkan relasinya dengan persekutuan semesta dalam langkah-langkah konkret seperti menanam pohon, meremajakan hutan, tidak mengotori sungai-laut-hutan, dan langkah-langkah taktis kesadaran ekologis lainnya.

Maka, kembali ke Taman Eden memproklamasikan komitmen manusia untuk mau hidup selaras alam, hidup dalam persekutuan harmonis dengan alam semeta. Hidup dalam situasi Taman Eden tidak menyisakan ruang bagi kepentingan diri dan sikap egois serta serakah. Seperti kata spiritualis Mahatma Gandhi: Bumi cukup untuk memenuhi kebutuhan semua manusia, tetapi bumi tidak akan pernah cukup untuk satu orang yang serakah!

Penulis adalah Wartawan IndonesiaSatu.co, Dosen di Kalbis Institut & Anggota Divisi Humas dan Publikasi di VOX POINT INDONESIA

Komentar