Breaking News
  • BI: penurunan suku bunga mendorong intermediasi perbankan
  • BI: penurunan suku bunga sudah perhitungkan FFR
  • Perusahaan China bidik sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia
  • Petambak Lombok berpenghasilan Rp20 juta per bulan
  • Tiga BUMN kembangkan pelabuhan dukung Tol Laut

SENI BUDAYA Lebih Dekat Mengenal Rumah Adat Ende-Lio 24 Aug 2017 15:01

Article image
Rumah adat di kampung adat Pemo, Ende-Lio . (Foto: Guche)
"Sejak tahun 1992 mendiami rumah adat, saya mengalami dan meyakini adanya kekuatan magis terutama ketika ada forum mosalaki atau ritual adat di kampung. Ada aura kewibawaan..."

ENDE, IndonesiaSatu.co -- Salah satu entitas budaya yang masih terus dipertahankan keberadaannya hingga kini oleh masyarakat adat Flores pada umumnya dan Ende-Lio pada khususnya yakni rumah adat. Dalam bahasa Ende-Lio, rumah adat dikenal dengan sebutan sa'o nggua.

Seperti halnya di daerah-daerah lain di Flores, pemaknaan terhadap rumah adat dalam tradisi budaya Ende-Lio menegaskan identitas historis, simbol kewibawaan para pemangku adat (mosalaki), pusat segala ritual adat serta roh pemersatu masyarakat adat. Dengan keyakinan ini, lazimnya rumah adat selalu dibangun di tengah-tengah kampung yang dilengkapi dengan barang-barang warisan leluhur seperti gendang (lamba), gong (nggo), tempat sesajian (bhaku), mesbah persembahan (musu mase/tubu musu) juga pakaian adat.

Ditemui IndonesiaSatu.co di salah satu rumah adat Pemo, kecamatan Wolowaru, Rabu (23/8/17) petang, Bapak Nikolaus Reku selaku salah satu pemangku adat setempat meyakini bahwa rumah adat memiliki daya magis yang tidak mampu dijabarkan secara rasional semata.

"Sejak tahun 1992 mendiami rumah adat, saya mengalami dan meyakini adanya kekuatan magis terutama ketika ada forum mosalaki atau ritual adat di kampung. Ada aura kewibawaan. Rumah adat menjadi kekuatan (roh) di kampung ketika segenap masyarakat adat berkumpul, bersatu dan dalam suasana kekeluargaan merayakan adat. Sejak berdirinya rumah adat, semangat gotong-royong dan kerjasama selalu dijaga hingga saat ini," ungkapnya.

Bapak Nikolaus mengisahkan bahwa sejak dirintisnya kampung adat Pemo dari kampung induk Wolosoko, masyarakat adat sudah bahu-membahu membangun rumah adat.

"Sejak rumah adat ini berdiri, ritual adat tahunan seperti menolak hama penyakit (nggua mbama) dan syukuran panen (mi are) selalu berpusat di sa'o nggua. Masyarakat adat selalu menjaga persatuan, kebersamaan, saling percaya dan menghormati adat. Jika terjadi perselisihan dan kesalahpahaman, semua diselesaikan secara kekeluargaan di dalam rumah adat," kisahnya.

Konstruksi Alamiah

Pada umumnya, konstruksi bangunan rumah adat Ende-Lio tampak alamiah (natural) karena semua jenis bahan bangunan dari tiang hingga atap, semuanya diambil dari bahan alam lewat suatu ritual adat.

"Tidak mudah mendapatkan bahan bangunan untuk mendirikan rumah adat. Ada forum dan ritual adat khusus sebelum mengadakan bahan-bahan yang dibutuhkan. Ada jenis kayu khusus untuk tiang utama, tiang penyangga, dinding hingga atap yang umumnya dari bahan alang-alang atau ijuk enau. Meski berasal dari bahan alam, bangunan rumah adat dapat bertahan hingga puluhan tahun. Jika sudah lapuk atau rusak guna direnovasi, bentuk aslinya tidak dapat diubah kecuali dibuat ritual khusus dengan memohon restu leluhur. Itu sudah menjadi keyakinan hingga sekarang. Jika diubah tanpa dibuat ritual, maka akan terjadi malapetaka/bencana di kampung. Hal itu pernah terjadi belasan tahun lalu," terangnya.

Disinggung soal kontribusi pemerintah terhadap kelangsungan adat, ayah dari empat orang anak ini mengakui bahwa sejauh ini belum ada kontribusi dari pemerintah baik di tingkat desa, kecamatan maupun kabupaten.

"Sejauh ini murni hasil swadaya masyarakat adat baik pembangunan dan renovasi rumah adat maupun ritual adat tahunan yang melibatkan seluruh masyarakat adat. Kami selalu percaya bahwa dengan semangat persatuan dan kebersamaan serta restu dari para leluhur, asap di dalam rumah induk adat tidak akan pernah padam. Kami bertanggung jawab untuk menjaga dan mewarisi rumah adat dan segala nilai luhur yang terkandung kepada generasi pewaris. Jujur, mayoritas masyarakat bekerja sebagai petani. Dengan segala kekurangan dari hasil usaha kami, ritual adat tidak mungkin dilupakan sebagai tanda syukur atas restu para leluhur," yakinnya.

Ayah berusia 78 tahun ini mengharapkan kerjasama dan kontribusi pemerintah dan berbagai pihak guna menjaga kelangsungan adat-budaya di Ende-Lio termasuk menghindari konflik kepemilikan hak ulayat atas tanah yang akhir-akhir ini bahkan menelan korban.

"Kami mengharapkan perhatian pemerintah terhadap kelangsungan adat. Karena adat merupakan warisan tradisi dan kekhasan daerah yang harus dipertahankan. Jika ada lembaga pemangku adat baik di tingkat desa, kecamatan maupun kabupaten, maka hal itu bisa menjadi ruang aspirasi guna memperjuangkan kelangsungan aset-aset budaya juga ritual adat oleh masyarakat adat. Selain itu, konflik soal hak ulayat jangan sampai menelan korban nyawa. Pemerintah perlu terlibat agar tidak terjadi konflik horizontal yang dapat merusak tatanan adat hanya karena persoalan memperebutkan lahan atau sebidang tanah. Adat dan pemerintah perlu bekerjasama," harapnya.

 

---Guche Montero

Komentar