Breaking News
  • Defisit Lebih Rendah Dari Proyeksi APBN-P 2017
  • Menkeu: investasi tumbuh karena kepercayaan pelaku usaha
  • Penerimaan Bea Cukai hingga November Rp130,1 triliun
  • Presiden Jokowi setuju pendiri HMI jadi Pahlawan Nasional

MAKRO Menkeu: Pengembangan SDM, Kunci Sukses Negara 20 Sep 2017 09:21

Article image
Menkeu Sri Mulyani memberikan sambutannya pada acara forum Komunikasi Badan Diklat dan Pengembangan Sumber Daya Manusia di lingkungan pemerintahan di kantor BPPK, Jakarta (18/09). (Foto: Ist)
"Negara yang maju itu biasanya adalah negara yang birokrasinya yang perform dan birokrasi yang memiliki kinerja adalah birokrasi yang punya kualitas SDM yang baik, organisasinya bagus, bersih, dan efisien..."

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Kementerian Keuangan (Kemenkeu) bersama 14 kementerian lain membuat sebuah forum Komunikasi Badan Diklat dan Pengembangan Sumber Daya Manusia di lingkungan pemerintahan. Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) adalah kunci yang luar biasa penting bagi kesuksesan sebuah negara. Komitmen inilah yang mendorong Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) mengadakan sebuah forum komunikasi untuk mensinergikan program diklat antar Badan Diklat di lingkungan pemerintahan.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati pada sambutannya mengatakan bahwa kesuksesan suatu negara sangat erat kaitannya dengan kesuksesan di dalam investasi di bidang pendidikan atau SDM.

"Negara yang maju itu biasanya adalah negara yang birokrasinya yang perform dan birokrasi yang memiliki kinerja adalah birokrasi yang punya kualitas SDM yang baik, organisasinya bagus, bersih, dan efisien," katanya di BPPK, Senin (18/09).

Pada pemaparannya, Menkeu menyampaikan terdapat empat topik yang harus dibahas pada forum komunikasi ini. Pertama, perbaikan substansi. Substansi setidaknya berisikan dua hal, yaitu substansi terkait kementerian/lembaga (K/L)tersebut dan substansi lintas kementerian. Substansi ini harus mengikuti perkembangan jaman dan kebutuhan terkini dalam menjalankan pemerintahan.

Kedua, ketahui target audiens, yaitu memberikan materi sesuai level manajemen peserta serta perhatikan pola berpikir peserta, terutama saat ini pengajar akan lebih banyak menghadapi generasi milenial dan generasi Z.

"Anda sudah mulai bisa menyesuaikan dengan pangsa umur dari mereka yang ikut diklat. Kalau bahasanya masih bahasa zaman Majapahit sulit banget untuk diadjust dalam bahasa kita yang menghadapi situasi yang berubah secara cepat. Pada saat (zaman) internet, sudah sangat berubah," jelas Menkeu.

Topik ketiga yang perlu dibahas adalah cara penyampaian materi tersebut. Pengajar harus lebih kreatif dalam memberikan subtansi. Satu substansi disampaikan dengan cara yang berbeda-beda sesuai target audiens agar materi dapat diterima dengan baik. Terakhir, bagaimana penyelenggara diklat dapat mengukur dampak dari diklat untuk mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan materi terhadap target pengajaran.

Tidak hanya itu, Menkeu juga mengingatkan para pengajar untuk meningkatkan kemampuan peserta diklat dalam menangkap isu atau kebijakan yang telah dibuat kemudian menuliskan serta mendokumentasikan kebijakan tersebut agar dapat diteruskan ke generasi berikutnya.  

"Institusi ini sangat penting sekali bagi kita untuk betul-betul membuat Republik ini dikelola oleh orang-orang yang punya kompetensi, punya profesionalitas, punya integritas yang kemudian menyebabkan Republik ini menjadi baik. Selamat melaksanakan silaturahmi, komunikasi yang terinstitusi yaitu komunikasi yang terstruktur, sehingga dalam hal pertemuan-pertemuan ini ada hasil dan bermanfaat untuk memperbaiki kualitas dari birokrasi dan pemerintah di Indonesia," pangkasnya.

--- Sandy Romualdus

Komentar