Breaking News

EKONOMI OJK: Bisnis Model Aggregator Paling Diminati Startup 19 Jul 2019 12:28

Article image
Selain bisnis aggregator, OJK memperkirakan tren pengembangan startup yang akan menjamur selanjutnya dalah model bisnis digital verification.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Model bisnis agregator (pengumpulan informasi) tercatat paling banyak diminati oleh perusahaan rintisan (startup). Tercatat dari 34 permohonan yang masuk regulatory sandbox Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di bacht 1, 11 diantaranya berbisnis model aggregator. Sementara, di bacht 2, dari 14 permohonan ada 4 startup yang mengembangkan bisnis aggregator.

Kepala Group Inovasi Keuangan Digital OJK, Triyono menjelaskan model bisnis agregator lebih banyak mengumpulkan informasi. Ia mencontohkan, KPR Academy yang mengumpulkan informasi mengenai harga-harga rumah KPR (Kredit Pemilikan Rumah).

"Jadi, masyarakat tidak perlu lagi mengantri di sebuah bank atau bersusah payah shopping around. Mereka membantu masyarakat membuat keputusan dalam membeli produk jasa keuangan," kata Triyono dalam Media Briefing OJK, Jumat (19/7/2019).

Berdasarkan data OJK, startup dengan model bisnis aggregator pada bacht 1 regulatory sandbox yang sudah tercatat diantaranya, ALAMI, Disitu, DokterDana, Cekaja dan Kreditpedia. Di bacht 2 startup aggregator yang tercatat meliputi Bandingin, Lifepal, Pinjaman Pedia, dan WAQARA.

Selain aggregator, model bisnis lain yang akan dikembangkan startup dan sekarang permohonannya diberikan status tercatat, di batch 1: financial planner (4 startup), credit scoring (3), blockchain-based (4), financing agent (3), claim service handling (2), project financing (2), online distress solution (1), social network & robo advisor (1), funding agent (1), online gold depository (1), digital DIRE/Dana Investasi Real Estat (1). Sedangkan di batch 2: project financing (3), financial planner (2), credit scoring (1), financing agent (1), verification non-CDD (1), tax & accounting (1), E-KYC (1).

Kembali ke model bisnis aggregator, melihat banyaknya minat startup mengembangkan model bisnis aggregator, maka OJK akan membuat peraturan mengenai model bisnis aggregator ini.

"Di bacht 1 ada potensi yang menurut kami bisa menjadi potensi aturan berikutnya. Prediksi kami aggregator ini sudah harus diatur karena bisnisnya agak beda-beda tipis dengan [bisnis] keagenan," tutur Triyono.

Selain bisnis aggregator, OJK memperkirakan tren pengembangan startup yang akan menjamur selanjutnya dalah model bisnis digital verification. Pasalnya, hampir semua platform lembaga keuangan membutuhkan verifikasi digital.

"[Digital Verification] akan sangat banyak ke depan karena hampir semua platform lembaga keuangan pasti butuh verifikasi digital. Prediksi saya, ini akan sangat banyak di masyarakat," jelasnya.

--- Sandy Javia

Komentar