Breaking News
  • Kapolda resmikan Bhayangkara Papua Football Academy
  • Kemen-PUPR tingkatkan kapasitas pekerja konstruksi dengan sertifikasi
  • Presiden Jokowi bersarung "blusukan" ke Mal Mataram
  • Pusat Konservasi Elang Kamojang lestarikan populasi elang jawaPusat
  • Wamen ESDM kaji FSRU penuhi pasokan gas

TOKOH Orang Baik Itu Telah Pergi ("In Memoriam" Laurens Tato) 19 Sep 2017 13:09

Article image
Laurens Tato (alm). (Foto: Ist)
"Kamu bantu kerja terjemahkan bahan-bahan itu ya. Untuk tiga bulan pertama saya bantu biaya kos..."

Oleh Valens Daki-Soo

 

SAAT itu kami mewakili PMKRI Cabang (tepatnya: calon Cabang) Maumere Sanctus Thomas Morus, organisasi yang saya inisiasi dan dirikan di Maumere karena tertusuk oleh rasa "gak enak": banyak mahasiswa eks frater di STFK Ledalero yang tidak tahu mau buat apa usai jam kuliah di "bukit sandar matahari" (arti Ledalero) itu. Agar kami tak merasa diri dan dianggap sebagai "mahasiswa kelas dua" di STFK ("kelas satu" adalah para frater -- sekali lagi ini mungkin gak nyata tapi hidup di alam anggapan kami), maka saya mengajak senior Aleksius Armanjaya dan Paskal bin Saju untuk dirikan PMKRI Maumere. Proses ini makan waktu hampir dua tahun, karena saat itu butuh dukungan berbagai tokoh awam Katolik lokal dan restu berbentuk surat dari Uskup Agung Ende (Mgr. Donatus Djagom, SVD) sebagai salah satu syarat mendirikan cabang PMKRI.

Kisah ini sengaja saya tulis, karena berkat kegiatan PMKRI-lah -- meski secara tidak langsung -- saya akhirnya mengenal sosok hebat tapi rendah hati yang tentangnya saya tulis obituari ini.

Atas undangan Ketua Presidium Pengurus Pusat PMKRI Cyrillus I. Kerong, berangkatlah saya dan Paskal bin Saju ke Jakarta. Dengan uang tiket dari Pater Dr. Georg Kircberger, SVD (teolog kawakan Ledalero asal Jerman yang juga pembina kami, para mahasiswa eks frater STFK Ledalero), kami naik Fokker-28 Bouraq Airlines dari Maumere menuju Surabaya.

Dari Surabaya kami naik bus malam ke Jakarta agar hemat ongkos. Sepanjang jalan kami terkesima dengan kemajuan Pulau Jawa dan suatu ketika saya komen dengan nada getir di daerah Semarang, "Wah, kita ketinggalan  terlalu jauh dari Jawa ya."

Kisah dan komen ini kelak jadi bahan diskusi kami dengan jurnalis Media Indonesia yang untuknya saya tulis "In Memoriam" ini: Laurens Tato.

Tibalah kami di Jakarta dan langsung ikut kegiatan "Pendidikan Kader Pers Pancasila" yang diselenggarakan bersama oleh PP PMKRI dan Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII). Sebagai mahasiswa dari kampung, kami mungkin agak "rasa diri" kalah dalam penampilan, tapi kami perkencang semangat untuk lakukan yang terbaik di arena itu. Beberapa menteri memberi materi, satu hal yang tidak biasa bagi kami. Juga Rikard Bagun, Redpel Kompas kala itu, memberi pelatihan tentang cara menulis tajuk dan opini.

Mungkin karena sudah terbiasa menulis di alma mater Ledalero, dari sekitar 150-an peserta pendidikan singkat itu, panitia menunjuk saya sebagai peserta terbaik dan karena itu berhak magang di Redaksi Kompas.

Cerita ini sampai ke telinga Pak Laurens Tato.

Seusai pendidikan pers singkat itu, mulailah "era perjuangan yang serba pahit" di Ibukota. Uang saku pemberian Pater Kirch sudah habis. Paskal bin Saju memutuskan kembali ke Maumere, sementara saya "nekat terus" hidup di megapolitan ini.

Beruntung saya masih bisa tinggal di Margasiswa PMKRI di Menteng. Tidur beralaskan koran (kemudian "naik kelas" di karpet), waktu itu "beban" saya bertambah dengan kedatangan sahabat dan saudara saya, Abraham Runga Mali, yang memutuskan keluar dari biara Ordo Carmelit (O.Carm) dan tanggalkan jubah coklatnya. Dia ikut saya tidur di Margasiswa, bergabung dengan para "penghuni asli".

Suatu ketika kami sudah benar-benar terjepit. Tak satu keping logam pun ada di kantung celana. Kami mencari jalan, termasuk dengan menelusuri alamat redaksi Media Indonesia. Ya, dengan berjalan kaki kami ke Gondangdia.

"Om Laurens, saya Valens Daki-Soo, eks frater Ledalero asal Nangaroro," begitu saya perkenalkan diri. Dia mengernyitkan dahi sambil angguk-angguk. Belum sempat ditanggapi, saya lanjut, "Ini Abraham Runga, kalau dia eks frater Carmelit Malang, orang Nangaroro juga campur Utetoto."

Om Laurens (kami panggil Om karena tampangnya tak hanya senior tapi juga ada wibawa dalam sikap "cool"nya) menimpal singkat, "Oh, kamu ini yang katanya peserta terbaik di pelatihan pers PMKRI itu ya. Sudah lamar ke mana?"

"Belum ke mana-mana, Om. Cuma magang di Kompas dan sebenarnya ada peluang untuk masuk Kompas, tapi saya belum punya ijazah S1."

Om Laurens terdiam. "Yaa, susah juga kalau belum S1. Itu salah satu syarat penting kalau cari kerja di sini."

Pembicaraan beralih ke Abraham Runga, dan menjadi 'nyambung' sekali karena mereka sesama orang Toto dengan bercerita macam-macam. Abraham pun membawa artikel opininya "Agama dan Pluralitas" yang dengan cepat dimuat di koran Media Indonesia. Abraham memang penulis yang hebat, tapi rupanya Om Laurens segera memuatnya karena juga terdorong niat untuk membantu kami. Honorarium tulisan lumayan sebagai bekal kami beberapa hari.

Kami pamit pulang dengan uang pemberian Om Laurens Tato, cukup sebagai logistik untuk makan di warteg beberapa waktu.

Suatu hari saya balik lagi.

"Om Laurens, bisa tolong kasih saya kerjaan ya? Kerja apa saja, yang penting bisa buat makan dan bayar kos."

Wartawan kawakan itu menjawab, "Valens, bisa terjemahkan naskah buku-buku psikologi populer? Ada teman saya penyadur buku-buku psikologi populer. Dia lagi cari orang yang bisa bantu terjemahkan naskah-naskahnya."

Kuatir kehilangan peluang, saya cepat menyergah, "Saya yakin bisa, Om Laurens. Waktu di Ledalero saya sering diminta dosen teologi (Pater Kirchberger) dan dosen psikologi (Bruder Guus Cremers) bantu terjemahkan teks-teks bahasa Inggris. Jadi, saya bisa bantu temannya itu, Om."

Sesuai janji, esok harinya saya datang mengambil naskah berbentuk bundelan diktat. Saya terjemahkan pakai mesin ketik milik Abraham Runga Mali, satu-satunya harta yang dia bawa dari biara Carmelit.

Ini kebaikan Om Laurens yang hingga kapanpun saya kenang: dia tanyakan saya tinggal di mana. Mendengar saya tinggal di margasiswa, Om Laurens omong begini, "Kamu bantu kerja terjemahkan bahan-bahan itu ya. Untuk tiga bulan pertama saya bantu biaya kos."

Maka untuk pertama kali saya hidup di sebuah kos, memang kecil tapi cukup nyaman untuk seorang yang terbiasa hidup dalam keheningan. Kos di belakang LIA Jl. Pramuka itu adalah awal dari perjalanan panjang penuh perjuangan, dengan suka-duka, senyum dan luka.

Om Laurens seorang senior yang baik dan pendengar yang empatik. Dia pribadi yang suportif, humanis, tulus membantu sesama. Dia juga cerdas dan kritis. Kalau saya ke Gondangdia, saya belajar banyak dari obrolan-obrolan kami di sela-sela kerjanya. Setiap kali pulang saya merasa mendapat "sesuatu": pikiran, wawasan, dan informasi yang baru.

Meski senior, dia tak pongah di hadapan anak-anak muda yang baru belajar "memanjat tiang kehidupan" di Ibukota yang sarat tantangan ini.

***

Jauh setelah itu, nasib mengantar kami meniti jalan yang sama: politik praktis. Om Laurens jadi caleg DPR RI dari Golkar pada pemilihan umum legislatif (Pileg) 2009, sementara saya dari PDI Perjuangan. Kami ditempatkan di Dapil yang sama, NTT I (Flores dan sekitarnya).

Lagi-lagi Om Laurens tunjukkan kebesaran jiwanya.

Saat media massa lokal mulai mengumumkan hasil perolehan suara, saya (yang telat turun dan hanya bisa kampanye di Nagekeo dan dua-tiga titik di Ngada) memperoleh raihan suara tertinggi di Nagekeo. Om Laurens menelepon, "Valens, selamat ya. Kamu harus maju terus. Jangan setengah-setengah. Harus total."

Saya malah menjawab, "Aeh, Om Laurens, saya mungkin pikir cukup sudah ini sebagai pengalaman. Ini saya cuma dua minggu kampanye saja sudah keluar banyak (uang). Gimana kalau kampanye dua bulan, apalagi dua tahun?"

Terdengar Om Laurens ketawa kecil. "Itu kan bagian dari pengorbanan. Mana mungkin hal besar diraih tanpa pengorbanan. Tapi jangan turun mendadak begitu. Justru kalau dari jauh hari, ongkosnya lebih murah."

Sebuah petuah yang tulus dari pribadi yang berjiwa besar.

Kita berduka karena kehilangan sosok wartawan senior berwawasan luas, penulis tajuk yang piawai meracik kata, politisi yang tidak sempat duduk di Senayan (DPR RI) tapi vibrasi pengaruhnya melampuai aura Senayan melalui tulisan-tulisan khususnya tajuk yang bergaya bahasa elok tapi menyengat, santun tapi tajam, jenaka tapi menikam hingga kedalaman.

Selamat jalan, Senior.

Terima kasih untuk segala jasa baikmu.

Bahagialah dalam cahaya kasih abadi-Nya yang paripurna.

 

Penulis adalah entrepreneur, Chairman PT Veritas Dharma Satya (VDS), Pendiri VDS & Partners Law Firm, Pendiri dan Pemimpin Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar