Breaking News
  • Defisit Lebih Rendah Dari Proyeksi APBN-P 2017
  • Menkeu: investasi tumbuh karena kepercayaan pelaku usaha
  • Penerimaan Bea Cukai hingga November Rp130,1 triliun
  • Presiden Jokowi setuju pendiri HMI jadi Pahlawan Nasional

LINGKUNGAN HIDUP Presiden Jokowi: Perlu Terobosan Baru dalam Pengelolaan Hutan 02 Aug 2017 18:48

Article image
Presiden Jokowi pada Peringatan Hari Lingkungan Hidup Tahun 2017 di Gedung Manggala Wana Bhakti, Jakarta, pada Rabu (2/8/2017). (Foto: Biro Pers Istana)
Bagi Presiden, pengelolaan hutan yang dilakukan haruslah memperhatikan dimensi ekonomi dan lingkungan.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Pengelolaan hutan yang baik mutlak diperlukan untuk menjaga kelestariannya. Indonesia sebagai negara dengan luas kawasan hutan yang tergolong besar tentu memerlukan perencanaan dan pengelolaan hutan yang baik dan berkelanjutan.

Karena itu, saat memberikan sambutan dalam Peringatan Hari Lingkungan Hidup Tahun 2017 di Gedung Manggala Wana Bhakti, Jakarta, pada Rabu (2/8/2017), Presiden Joko Widodo memberikan pandangannya terkait bagaimana seharusnya Indonesia mengelola hutan agar dapat lebih produktif.

Menurut Presiden, diperlukan langkah-langkah terobosan dan upaya baru yang harus dilakukan jajarannya untuk mewujudkan hal itu.

"Penting memiliki sebuah strategi besar pembangunan hutan yang memiliki dimensi ekonomi dan lingkungan. Kita perlu melakukan sebuah koreksi besar, mestinya ada corrective action agar ada sebuah terobosan," ujar Presiden seperti dikutip dari siaran pers Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden.

Bagi Presiden, pengelolaan hutan yang dilakukan haruslah memperhatikan dimensi ekonomi dan lingkungan. Artinya, pemanfaatan nilai ekonomis hutan harus seimbang dengan upaya pelestariannya.

Menurutnya, pengelolaan hutan di Indonesia saat ini tidak jauh lebih baik dibandingkan negara lainnya. Bahkan, hutan di berbagai daerah di Indonesia menurutnya belum memberikan manfaat signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat.

"Jangan sampai hutan tidak memberikan apa-apa kepada rakyat. Dalam sekian tahun, mohon maaf, pengelolaan hutan kita berada pada posisi yang monoton, tidak ada pembaruan," kata Presiden.

Ia mencontohkan pengelolaan hutan yang dilakukan oleh negara lain. Di negara yang dicontohkan oleh Presiden itu, pengelolaan hutan dapat memberikan sumbangsih bagi kegiatan ekonomi dengan tetap memperhatikan pelestarian lingkungan.

"Saya ingin memberikan contoh, misalnya Swedia dan Finlandia. Ekonominya hampir 70-80 persen berasal dari pengelolaan hutan yang baik. Saya kira kita tidak usah sulit-sulit, tiru dan nanti disesuaikan dengan keadaan hutan di negara kita," ucapnya.

Presiden kemudian meminta jajarannya di Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup untuk mempelajari bagaimana kedua negara tersebut mengelola hutannya dengan memperhatikan aspek lingkungan dan ekonominya. Ia sekaligus mengingatkan, segera menghentikan program maupun rencana kehutanan yang berorientasi proyek.

"Ini harus dihentikan. Jangan lagi ada program-program atau rencana-rencana yang orientasinya proyek. Sudah hentikan itu!" tegas Presiden.

Presiden mengatakan, sudah terlalu lama pengelolaan hutan dilakukan hanya dengan berorientasi pada proyek semata. Mantan Gubernur DKI Jakarta ini mengaku memiliki data siapa saja yang bermain proyek di sektor kehutanan.

Sebab dalam mengelola hutan, lanjutnya, dibutuhkan sosok yang memiliki jiwa mulia dan etos kerja yang baik yang mampu benar-benar menjalankan amanat untuk melindungi hutan. Ia sembari menegaskan, hutan lindung haruslah dilindungi.

"Jangan hanya namanya taman nasional tapi digerogoti sedikit-sedikit. Tahu-tahu sudah ratusan atau ribuan hektare kita biarkan. Jangan terus-terusan seperti itu. Nanti dalam forum tertutup akan saya buka semuanya," ujarnya.

 

Penyerahan Kalpataru

Dalam acara itu, Presiden Joko Widodo turut menyaksikan penyerahan penghargaan Kalpataru dan penghargaan hidup lain untuk tahun 2017. Penghargaan diserahkan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar dengan didampingi Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution.

Penghargaan Kalpataru merupakan penghargaan yang diberikan kepada individu maupun kelompok yang dinilai berjasa dalam merintis, mengabdi, menyelamatkan, dan membina perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dan kehutanan Indonesia.

Tahun ini, Kalpataru diberikan kepada 10 orang penerima. Sementara penghargaan lainnya yang berupa Adipura Kencana diberikan kepada 6 orang, Adipura kepada 16 orang, Adiwiyata Mandiri kepada 24 orang, dan Nirwasita Tantra kepada 9 orang yang terdiri atas 3 gubernur, 3 bupati, dan 3 wali kota.

"Hidup kita orang Indonesia dari dulu sudah bergantung dan menjadi satu dengan alam. Ini yang kita tidak boleh lupa. Sebab alam Indonesia adalah bagian penting dari identitas kita sebagai manusia Indonesia," kata Presiden.

Turut mendampingi Presiden, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki. Tampak pula hadir diantaranya, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, serta Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arcandra Tahar.

 

--- Very Herdiman

Komentar