Breaking News

PERTANIAN Raker Bersama Mentan, Ansy Lema Soroti Realisasi Anggaran dan Kedaulatan Pangan 28 Aug 2020 10:20

Article image
Anggota Komisi IV DPR RI, Yohanis Fransiskus Lema saat menunjukkan sampel Bawang Putih TTS (NTT) pada Raker bersama Menteri Pertanian. (Foto: Dok. Tim)
"Indonesia harus berjuang agar memiliki kemandirian pangan, tidak bergantung pada impor komoditas dari negara lain," sentil Ansy.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Anggota Komisi IV DPR RI, Yohanis Fransiskus Lema, kembali menyoroti rendahnya realisasi anggaran Kementerian Pertanian RI dan mendorong kedaulatan pangan sebagai wujud aspirasi para petani-peternak dari wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).

Hal itu diutarakan Politisi PDI Perjuangan yang akrab disapa Ansy Lema itu saat menghadiri Rapat Kerja (Raker) Komisi IV DPR RI dengan Menteri Pertanian (Mentan) RI, Syahrul Yasin Limpo, Eselon I/Direktorat Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan) dan BUMN Sektor Pertanian-Peternakan, Kamis (26/8/2020).

Adapun agenda Raker membahas Laporan Keuangan Kementerian Pertanian Tahun 2019, Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Tahun 2021, dan Rencana Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Pertanian Tahun 2021.

Ansy mengatakan bahwa pada kesempatan Raker itu, Ia memberikan evaluasi dan proyeksi terhadap Kementan, dengan menyampaikan dua poin penting.

Pertama, Menyoroti rendahnya realisasi Anggaran Kementan.

Diterangkan bahwa, realisasi anggaran Kementan per 3 Juli 2020 sebesar 44,03% dari total anggaran Rp 14,06 triliun, baru diserap Rp 6,19 triliun.

"Artinya, masih sekitar 46,07 % anggaran Kementan yang belum direalisasikan. Akibatnya, banyak program untuk petani-peternak belum direalisasikan. Ini terkonfirmasi dengan adanya keluhan petani-peternak saat saya menjalani reses," kata Ansy.

Ansy mengangkat contoh petani Rote Ndao yang mengeluhkan kesulitan dan keterlambatan pupuk.

Contoh lain, penanganan virus Flu Babi Afrika (ASF) yang masih jauh dari harapan. Selain itu, keluhan dari para penyuluh pertanian perihal honor dan kesejahteraan mereka.

"Saya mendesak Kementan bekerja lebih cepat, cermat, tertib, fokus dengan arah dan orientasi yang jelas agar serapan anggaran bisa membantu petani-peternak," katanya.

Kedua, mendesak Kementan mewujudkan Kedaulatan Pangan.

Pada point tersebut, mantan Dosen dan penyiar itu menyoroti bahwa fokus dan orientasi APBN 2021 Kementan harus berorientasi (mengarah) pada kedaulatan pangan (food sovereignity), bukan lagi sekedar pada ketahanan pangan (food security).

"Indonesia harus berjuang agar memiliki kemandirian pangan, tidak bergantung pada impor komoditas dari negara lain," sentilnya.

Contohnya, bandingnya, berdasarkan data dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 2020, saat ini neraca perdagangan buah-buahan Indonesia masih defisit Rp19,1 triliun.

Menurutnya, besarnya defisit dipengaruhi terutama oleh impor empat jenis buah-buahan, yaitu anggur, apel, jeruk, dan pir dengan total nilai impor mencapai Rp16,7 triliun

"Sebagai contoh konkret dari perwujudan kedaulatan pangan, saya mendorong Kementan menggalakkan subsitusi impor," ujarnya.

Satu contoh konkret, lanjut dia, saat reses di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), saya menemukan potensi bawang putih di daerah tersebut. 

"Saya bahkan menunjukkan langsung bawang putih yang dikembangkan di TTS. Artinya, pengembangan tanaman subsitusi impor sangat bisa dilakukan," yakinnya.

Ansy menilai, Bawang Putih dari TTS tidak kalah kualitasnya dengan bawang putih impor untuk menekan 95 persen ketergantungan pada impor dari China.

"Saya mengusulkan perlunya pewilayahan komoditas (clustering) dan diversifikasi pangan. Lembaga riset Kementan perlu mendukung upaya ini dengan menghadirkan benih berkualitas sesuai karakteristik daerah," imbuhnya.

Terakhir, seraya mengucapkan terima kasih kepada Kementan atas bantuan alat mesin pertanian (alsintan) kepada petani di NTT, Ansy juga menyampaikan beberapa aspirasi di bidang pertanian-peternakan.

"Tidak ketinggalan, saya menyerahkan aspirasi dari dapil dalam bentuk proposal kepada Menteri Pertanian RI," terangnya.

"Petani-peternak NTT berharap Kementan dapat membantu sumur bor/embung/pompa air untuk mengatasi kekurangan air, bantuan benih berkualitas dan memberikan bantuan bibit babi (akibat ASF) serta memperhatikan penyuluh," tutupnya.

--- Guche Montero

Komentar