Breaking News
  • Bos First Travel Andika Divonis 20 Tahun, Istrinya 18 Tahun
  • Dolar AS Melambung, Harga Premium dan Solar Tak Naik Tahun Ini
  • Hendropriyono: TNI/Polri Jangan Takut Tegakkan Hukum
  • JK: Eks Koruptor Dilarang Nyaleg Agar Wibawa DPR Baik
  • Jonan Targetkan Akuisisi Saham Freeport Rampung Juni

AGAMA Romo Magnis: WO Bisa Dibenarkan Jika Anies Lakukan Tindakan Tidak Senonoh 14 Nov 2017 11:16

Article image
Guru Besar Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta Franz Magnis Suseno. (Foto: Ist)
Semua pihak harus memberi kesempatan pada Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih untuk menjalankan janji-janji politiknya.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co - Aksi walk-out terhadap Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam acara 90 Tahun Kolese Kanisius, Jakarta, Sabtu (11/11/2017) mendapat tanggapan beragam. Ada yang mendukung aksi tersebut, namun ada juga yang mengeritiknya.  

Rohaniwan Katolik Romo Franz Magnis Suseno juga ikut berkomentar terkait aksi tersebut. Dia mengaku tidak menyaksikan kejadian tersebut karena cepat pulang.

“Nah, sekarang saya baru tahu ada ‘kejadian Anies’. Berhubung saya, secara tak langsung, terlibat, saya mau memberi pendapat saya,” ujarnya melalui pernyataan pers yang diterima redaksi, Senin malam.

Magnis mengatakan, keputusan panitia perayaan mengundang Gubernur DKI sudah tepat. “Wajar itu (mengundang Gubernur DKI Jakarta) pada perayaan 90 tahun sebuah sekolah ternama di ibukota,” ujarnya.

Magnis mengatakan, dirinya senang dengan kehadiran orang nomor satu di DKI Jakarta itu. Namun, dia sangat menyesalkan kejadian “walk-out” yang dilakukan sebagian orang dalam acara tersebut. “Namun apa yang terjadi kemudian - bukan salah Panitia! - menurut saya memalukan dan sangat saya sesalkan,” ujarnya.

Magnis mengatakan, walk-out bisa dibenarkan jika sang Gubernur mengatakan atau melakukan sesuatu yang tidak senonoh.

“Andaikata Gubernur mengatakan sesuatu yang tidak senonoh/jahat/menghina, walk-out dapat dibenarkan. Tetapi walkout kemarin (dalam perayaan 90 Tahun Kanisius) menunjukkan permusuhan terhadap pribadi Gubernur merupakan suatu penghinaan publik,” ujarnya.

Mengutip salah satu tokoh Islam, Abdillah Toha, aksi tersebut bisa mempertajam permusuhan di negeri yang memang sudah rentan intoleransi ini. 

Guru Besar Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta ini menegaskan bahwa Anies Baswedan adalah Gubernur sah, yang dipilih secara demokratis oleh mayoritas meyakinkan. Karena itu, semua pihak harus memberi kesempatan pada Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih untuk menjalankan janji-janji politiknya.

“Amat disayangkan bahwa sebagian peserta menggunakan kesempatan seratus tahun Kanisius untuk menunjukkan permusuhan terhadap Gubernur DKI,” katanya.

Romo Magnis mengatakan, Ananda Sukarlan (inisiator walk-out), berhak menolak Anies. “Sebagai seorang Muslim ia (Anada Sukarlan) tidak perlu dicurigai bersikap sektarian. Namun saya tetap tidak dapat menyetujui kelakuannya. Tamu harus dihormati, tamu datang karena diundang panitia, maka semua yang ikut undangan panitia, harus menghormati tamu pun pula kalau secara pribadi tidak menyetujuinya. Silahkan panitia dikritik. Tetapi menginisiasikan suatau demonstrasi penghinaan terbuka terhadap Gupernur DKI saya anggap  penyalahgunaan kesempatan,” ujarnya.

Terlepas dari aksi tersebut, Romo Magnis berharap Kanisius terus meningkatkan kualitasnya, dengan menghasilkan manusia-manusia Indonesia yang bermutu.

“Semoga Kanisius bisa maju terus, dan terus diterima baik oleh masyarakat Jakarta,” pungkasnya.

Seperti diberitakan, saat Anies Baswedan berpidato di malam penghargaan peringatan ulang tahun ke-90 Kolese Kanisius, Sabtu (11/11/2017), alumnus Kolese Kanisius angkatan 1986, Ananda Sukarlan, dan sejumlah hadirin lainnya meninggalkan ruangan. Mereka walk outsebagai bentuk kritik terhadap panitia yang telah mengundang Anies hadir dalam acara tersebut.

Menurut Ananda, integritas Anies bertentangan dengan apa yang telah diajarkan oleh Kolese Kanisius. “Pas saat Anies bicara tentang pembangunan Jakarta. Membangun seperti apa, itu Tanah Abang jadi kacau. Kalau kacau begitu, kan, bukan pembangunan,” ujar Ananda.

Walau mengaku sebagai pendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat Pilkada DKI Jakarta lalu, namun pianis itu menegaskan aksinya itu bukan bentuk kebencian pribadi.

“Enggak ada dendam pribadi. Ini kritik ke panitia. Kenapa mengundang seseorang yang mendapatkan jabatannya berbeda dengan nilai yang diajarkan. Bukan (kebencian) kepada Anies,” ujarnya.

--- Very Herdiman

Komentar