Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

TAJUK Solider dan Toleran 05 Aug 2017 10:10

Article image
Sikap solider dan toleran dapat menghancurkan politik identitas. (Foto: Ist)
Toleransi positif memberikan perhatian maksimal dengan mengusahakan kondisi-kondisi yang adil bagi orang lain untuk hidup sesuai keunikan identitas diri dan kelompok.

DI TENGAH banyak sikap saling hujat atas dasar kebencian karena politik identitas, baiklah kita berpaling pada sikap solider dan toleran. Keduanya saling terkait untuk membentuk jalinan “keluarga masyarakat” yang harmonis. Lalu menghancurkan politik identitas yang cenderung mengkotak-kotakan orang dalam kelompok-kelompok fanatis.

Solider sebagai sikap etis pertama yang dipilih dapat menjadi landasan untuk memperjuangkan keadilan. Solidaritas kepada yang lain dapat menumbuhkan sikap untuk mengambil bagian dalam kebersamaan, termasuk mereka yang diasingkan secara sengaja dalam masyarakat.

Solidaritas dapat membuka ketertutupan hati untuk membangun sikap yang adil terhadap yang lain di sekitar kita. Sikap solider akan menghayati masyarakat multikultural untuk menerima dan mengakui orang lain dengan keberadaan dan keberlainnya, seperti solidaritas yang tidak membeda-bedakan. Konsekuensi yang timbul dari pengakuan ini adalah munculnya jaminan terhadap semua orang dan kelompok untuk hidup sesuai dengan keunikan dan identitasnya.

Solidaritas sebagai sikap kritis-transformatif selanjutnya akan menghidupkan toleransi positif. Artinya setiap kelompok atau insan yang hidup dalam masyarakat dapat menunjukkan preferensi kritisnya untuk membela pemaksaan dan penyamaan nilai dan orientasi yang dilakukan kelompok tertentu terhadap kelompok lain.

Toleransi positif memberikan perhatian maksimal dengan mengusahakan kondisi-kondisi yang adil bagi orang lain untuk hidup sesuai keunikan identitas diri dan kelompok. Jadi tidak terbatas dalam toleransi negatif yang terkesan bersikap pasif, yang sekadar membiarkan orang lain beragama, tidak melarang orang lain beribadah atau lain-lain.

Bangsa Indonesia yang terbangun atas dasar fakta keragaman harus menyerahkan dirinya dipimpin oleh sikap solider dan toleran.

Salam Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar