Breaking News
  • BI: penurunan suku bunga mendorong intermediasi perbankan
  • BI: penurunan suku bunga sudah perhitungkan FFR
  • Perusahaan China bidik sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia
  • Petambak Lombok berpenghasilan Rp20 juta per bulan
  • Tiga BUMN kembangkan pelabuhan dukung Tol Laut

KOLOM Toleransi Cinta 17 Jul 2017 12:05

Article image
Cinta membuka sekat-sekat pemisah dalam jalinan saling mengakui dan menghormati satu sama lainnya. (Foto: Ist)
Ada kekuatan cinta yang menghancurkan dinding-dinding ketertutupan-dendam, menuju langit biru cinta kasih dan perdamaian.

Oleh Redem Kono

 

SAUDARAKU, apa yang mengikat toleransi dalam keragaman kita? Perkenankan saya menjawab: Cinta. Cinta akan mengikat toleransi, mengukuhkannya, dan melindunginya. Tentu saja cinta yang dimaksud dalam pandangan Marion bukan cinta antara pasangan.

Perkenankan saya juga mengutip penjelasan Jean-Luc Marion dalam bukunya, Prologomena to Charity (2002). Menurutnya, bahasa cinta mendorong manusia untuk mencintai (toleransi) dan dicintai (toleransi).Mengapa? Jean Luc-Marion menggariskan dua karakter cinta: pertama, cinta selalu merupakan "pemberian diri" (gives it self, p. 71). Pemberian ini tanpa arah, karena cinta adalah pemberian tanpa syarat, tanpa batas, tanpa permintaan dari penerima. Kita tidak memperhitungkan dari mana asalnya, agamanya, sukunya, kampungnya, atau kotanya.

Kedua, cinta adalah kekuatan performatif, artinya memiliki kekuatan (potensial) untuk mencairkan kebekuan-kebencian yang menghalangi jalannya. Cinta memiliki kekuatannya sendiri untuk membuat orang men-cinta. Ada kekuatan cinta yang menghancurkan dinding-dinding ketertutupan-dendam, menuju langit biru cinta kasih dan perdamaian.

Cinta itu misteri, karena tidak dapat (selalu) habis untuk dijelaskan. Mengapa? Karena cinta, bagi Marion dalam God Without Being (1991, p. 7-9, 7-18), adalah "fenomena tersaturasi" (saturated phenomenon). Artinya, cinta memiliki karakter misteri, tak pernah habis didefinisikan (diuraikan dalam dan melalui kata-kata), tidak habis dilukiskan oleh para penyair atau guratan kata-kata indah novelis. Cinta itu misteri, bukan karena kekurangannya, tetapi justru kelebihannya.

Cinta memiliki kelebihan, karena di dalam cinta hadir Yang Tertinggi yang tidak tampak, namun ada; yang tidak hanya menciptakan Cinta. Ia adalah Cinta, ialah Allah. Allah adalah Cinta (John D. Caputo, 2001, p. 7). Allah=Cinta yang tetap ada meski tidak hadir, tetap hadir sebagai misteri, maka kita manusia ciptaan-Nya harus mencinta misteri Allah, sekaligus Allah=Cinta.

Bagi saya, anjuran Marion secara tepat mengkritik zaman kita. Ada banyak tempat di dunia, bahkan dalam bangsa kita, di mana orang terjatuh dalam "idol." Yang dimaksud adalah orang lebih bersibuk Tuhan agama mana yang paling benar, paling kudus, paling rasional. Terbelah dalam debat yang tidak disertai kedewasaan beriman, maka, datanglah kebencian di atas langit-langit perbedaan. Di situlah kita, sadar atau tidak, telah melawan Allah=Cinta!

Pertanyaannya, untuk apa beragama kalau kita melawan Cinta yang adalah Allah sendiri? Bagaimana mungkin kita berbicara tentang Allah=Cinta jika pada saat yang sama pedang terhunus menghabisi orang lain?

Anjuran saya, ketimbang kita berdebat tentang sosok Allah (mana yang paling benar), lebih baik mari kita gali kesegaran cinta yang ditawarkan Allah. Allah memang hadir, dan kehadirannya akan tetap ada entahkah kita memperdebatkannya atau tidak. Cinta kepada orang lain dalam segala keunikannya mungkin merupakan jalan satu-satunya untuk menangkap kehadirannya.

Maka, jika ruang keragaman kita dipenuhi ruang kebencian, kita secara otomatis jauh dari perjalanan menuju Allah=Cinta. Cinta kepada kehadiran yang lain dalam hidup kita tetap mengikat kita dalam kesatuan cinta. Dekat dengan Allah berarti senantiasa membahasakan Bahasa Cinta. Jika Allah=Cinta, maka seharusnya identitas agama adalah Agama Cinta. Bukan sebaliknya.

Itulah kenapa saya yakin, toleransi perlu diikat dengan Cinta. Cinta akan dengan sendirinya melakukan intoleransi terhadap toleransi.

Penulis adalah Wartawan IndonesiaSatu.co

Komentar