Breaking News

REGIONAL TPDI: Draft MoU PT.YKI Ungkap Skenario Perselingkuhan Bisnis Bupati Sikka 11 Jun 2020 16:15

Article image
Koordinator TPDI dan Advokat PERADI, Petrus Selestinus. (Foto: Ist)
Padahal, timpalnya, draft MoU PT.YKI, yang isinya jelas melukai rasa keadilan publik Sikka itu, akan dibahas di DPRD Sikka, namun terbongkar karena draft MoU versi PT.YKI sudah bocor ke publik.

MAUMERE, IndonesiaSatu.co-- "Draft Memorandim of Understanding (MoU) PT. Yasoonus Komunikatama Indonesia (YKI) ungkap skenario perselingkuhan bisnis pembangunan Mall dan Hotel Bibtang 4 di Pasar Tingkat Maumere, Kabupaten Sikka, NTT."

Demikian hal itu diutarakan Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI), Petrus Selestinus dalam keterangan tertulis kepada media ini, Kamis (11/6/20).

Petrus menerangkan bahwa Bupati Sikka, Robi Idong, telah memberi isyarat menyetujui atau menerima PT.YKI sebagai investor yang akan segera membangun Mall dan Hotel bintang 4 di atas lokasi Pasar Tingkat (Pasar Tradisional, red) Maumere dengan syarat jaminan uang sebesar Rp. 200 miliar disimpan di Bank NTT.

"Artinya, hanya dengan uang jaminan Rp.200 miliar, Bupati Robi dan PT. YKI ingin menghabisi anak kandung ekonomi rakyat kecil yaitu Pasar Tradisional. Karena dengan demikian, maka fungsi, sifat dan karakter Pasar Tradisional serta-merta hilang dan berubah wujud dengan sifat, fungsi dan karakter Pasar Modern yaitu Mall dan Hotel bintang 4 yang tidak memberi tempat bagi pedagang Pasar Tradisional," nilai Petrus.

Padahal, lanjut dia, nilai jaminan uang Rp.200 miliar itu tidak sepadan dengan sejumlah kepentingan publik Sikka yang akan dikorbankan jika Mall dibangun tanpa feasibility study obyektif, demi ambisi politik Robi Idong dan keuntungan ekonomi PT.YKI atas nama investasi dan kesejahteraan warga Sikka dengan mengabaikan fungsi Pasar Tingkat Maumere yang justru memiliki sejarah panjang dan harus dilindungi.

Menurut Advokat Peradi ini, kepentingan lebih besar akan dikorbankan dengan kehadiran Mall dan Hotel bintang 4; antara lain hilangnya sifat dan fungsi Pasar Tradisional sebagai anak kandung ekonomi rakyat kecil yang merupakan kekayaan budaya masyarakat Sikka dengan segala aneka ragam keunikannya, dan pada gilirannya secara perlahan akan memangsa Pedagang Pasar Tradisional, akibat tidak kuat bersaing melawan sistem tata kelola Mall yang liberal.

"Langkah Bupati Robi begitu agresif menerima kehadiran PT.YKI tergambar jelas dalam draft MoU, terutama uraian tentang hak dan kewajiban Pemda Sikka dan PT.YKI," singgungnya. 

Adanya deal yang sudah matang antara Bupati Robi dengan PT.YKI untuk kerja sama membangun Mall dan Hotel, kata dia, point-point tentang hak dan kewajiban mana seharusnya disosialisasi dan didiskusikan matang terlebih dahulu di internal Pemda dan DPRD Sikka, kemudian ditawarkan kepada PT.YKI.

Dramaturgi Bupati Robi Idong

Pengacara Senior asal Sikka ini berpandangan bahwa hal itu merupakan sebuah dramaturgi yang sangat menggelikan.

Pasalnya, secara agresif Bupati Robi sudah melakukan deal dengan PT.YKI, lalu bersikap seolah-oleh belum ada deal apa-apa.

"Semua point isu kerjasama yang seharusnya masih menjadi rahasia Pemda Sikka yang memerlukan pembahasan dan persetujuan dengan DPRD Sikka dan stakeholders lainnya, sudah terlanjur diberikan kepada PT.YKI sebagaimana fakta-faktanya terungkap dalam draft MoU PT.YKI yang bocor ke publik," ujar Petrus.

Petrus mengemukakan bahwa dalam Ilmu komunikasi politik, pola Bupati Robi Idong disebut aksi publisitas diri, aksi yang direkayasa untuk pencitraan sebagai dramaturgi melalui simulasi dan simuclara yang nyaris jadi hiper-realitas.

"Aksi publisitas, politicking dan tipu muslihat seolah-olah proses demokratisasi dalam kerjasama yang sering diumbar Bupati Robi, berjalan normal sehingga terkesan demokratis, ternyata hanyalah bagian dari dramaturgi Bupati Robi," kritiknya.

Memperhatikan draft MoU yang beredar, sebutnya, nyata benar bahwa semua 'isi perut' Pemda Sikka sudah tergadaikan dalam deal antara PT.YKI dengan Bupati Robi di ruang gelap (tidak transparan, red), jauh sebelum gagasan membangun Mall dan Hotel bintang 4 dibicarakan dengan DPRD Sikka.

"Suatu sikap yang tidak sesuai dengan etika dan sistem tatakelola lemerintahan, karenanya Bupati Robi harus menuai reaksi publik yang bertubi-tubi datang akibat tidak adanya transparansi," lanjutnya.

'Isi Perut' Pemda Sikka Tergadaikan

Lantas Petrus menyoroti bahwa 'isi perut' Pemda Sikka terlalu dini tergadaikan pada PT.YKI, dalam hal hak dan kewajiban Pemda Sikka sebagaimana MoU, seperti uang jaminan Rp. 200 miliar; masuknya perusahaan baru dengan nama PT. My Sikka Nusantara dan PD Pasar yang dibentuk; komposisi saham 40% untuk Pemda Sikka; Pemilikan atas tanah dengan hak tertentu di atas lahan Pasar Tingkat sebesar 50% menjadi milik PT.YKI selama 30 tahun; Sertifikat Hak Pakai Pasar Alok Nomor: 532/63/90/SK/1991, belum dibahas di internal tetapi sudah masuk dalam draft MoU PT.YKI. 

"Ini bukti rancang bangun praktik KKN dan perselingkuhan bisnis antara Bupati Robi dengan Yamanotona Basaro Lase, dalam ide pembangunan Mall dan Hotel bintang 4 yang telah dirancang rapi secara prematur, namun bocor ke publik sehingga berakibat semua skenario akan berantahkan," sentilnya.

Padahal, timpalnya, draft MoU PT.YKI, yang isinya jelas melukai rasa keadilan publik Sikka itu, akan dibahas di DPRD Sikka, entah kapan, namun terbongkar karena draft MoU versi PT.YKI sudah bocor ke publik.

Membuka rahasia dapur Pemda Sikka dan Masyarakat Sikka kepada seorang Yamanotona Basar Laso/PT. YAI oleh seorang Bupati, jelas merupakan pengkhianatan terhadap Etika, Hukum dan Asas-asas Umum Pemerintahan Yang Baik, karena dilakukan sebelum kerja sama dimaksud dibicarakan secara resmi di internal Pemda dan DPRD Sikka, belum disosialisasikan secara demokratis sebagaimana sering diumbar oleh Robi Idong ke media.

"Pertanyaannya, etiskah seorang Bupati diam-diam melakukan deal dan membuka seluruh 'isi perut' Pemda kepada pihak luar yang belum jelas rekam jejak, itikad baik, kredibilitas dan kapabilitasnya?" timpalnya. 

Menurut Petrus, Bupati Robi bisa dicap telah melakukan pengkhianatan dan kebohongan publik, karena keinginan mengubah secara total fungsi Pasar Tradisional menjadi Mall dan Hotel bintang 4, belum disosialisasikan dan belum ada 'persetujuan' DPRD Sikka, namun point-point penting draft MoU yang berisi seluruh 'isi perut' Pemda Sikka sudah dimiliki PT.YKI.

Sebagai analogi, bebernya, kita boleh lapar, lalu menjual hewan untuk bisa membeli beras, menjual hasil kebun untuk membeli garam dan ikan asin.

Namum kita tidak boleh menjual identitas budaya dan harga diri warga Sikka kepada investor yang datang membawa mimpi-mimpi atas nama mensejahterakan warga Sikka, menaikkan PAD Pemda Sikka dan banyak janji 'angin surga' lainnya, yang semuanya hanya mimpi-mimpi di siang bolong dan tidak menjadi skala prioritas. 

"Pemda Sikka justru harus mendahulukan pemberdayaan sosial dan pelatihan terhadap para Pelaku Usaha Tradisional Sikka, untuk menjadi pedagang yang profesional. Sehingga, andai saja mimpi Bupati Robi membangun Mall dan Hotel bintang 4 terwujud, maka 90% Mall itu harus diisi oleh putera-puteri Sikka, mulai dari yang bermukim di balik gunung hingga yang bermukim di pesisir kota, dan bukan sebaliknya membiarkan putera-puteri kita di Sikka menjadi penonton yang konsumtif," tutupnya. 

--- Guche Montero

Komentar