Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

HANKAM Tragedi Nduga, Kiki Syahnakri: Intelijen di Papua Dievaluasi Menyeluruh 07 Dec 2018 16:11

Article image
Ketua Umum Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat (PPAD) Letjen (Purn) Kiki Syahnakri. (Foto:
Ketua Umum Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat (PPAD) Letjen (Purn) Kiki Syahnakri menilai, peristiwa penembakan puluhan pekerja proyek tidak terjadi bila fungsi intelijen berjalan dengan baik.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co – Peristiwa berdarah yang menewaskan 31 pekerja proyek Trans Papua di Nduga, Papua pada Minggu (2/12/2018) oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) mengundang keprihatinan berbagai kalangan.

Ketua Umum Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat (PPAD) Letjen (Purn) Kiki Syahnakri menilai, peristiwa penembakan puluhan pekerja proyek tidak terjadi bila fungsi intelijen berjalan dengan baik.

Karena itu, Kiki meminta pemerintah mengevaluasi kinerja intelijen di Papua.

"Kami menyarankan masalah intelijen dievaluasi menyeluruh dan komprehensif karena kesannya kejadian tersebut tidak ada keterpaduan," kata Kiki dalam konferensi pers di Gedung PPAD, Jakarta, Jumat (7/12/2018).

Kiki menilai, intelijen seharusnya mewaspadai adanya gerakan separatis di Papua terutama menjelang hari ulang tahun  Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang jatuh pada 1 Desember.

"Tanggal 1 Desember itu adalah, HUT OPM, masa intelijen tidak ada peringatannya untuk mewaspadai itu," ujarnya.

Intelijen Indonesia juga harus peka dan mengusut asal-usul senjata tersebut sehingga bisa dilakukan deteksi dini dan pencegahan agar tidak terjadi peristiwa penembakan.

"Selain itu, Indonesia yang memiliki garis pantai yang panjang, TNI-Polri sulit mendeteksi masuknya senjata sehingga apabila masyarakat mengetahui adanya dugaan senjata yang masuk, mereka harus melaporkan kepada institusi TNI dan Polri," ujarnya.

Kiki juga meminta pemerintah mengevaluasi secara menyeluruh terkait penanganan keamanan di Papua, menyangkut masalah manajemen operasi TNI-Polri seperti sistem intelijen, taktis, koordinasi, teritorial.

"Saya tidak tahu kinerja intelijen di Papua seperti apa, sehingga kami sarankan dievaluasi secara komprehensif dan menyeluruh," katanya.

Menurut dia, kerja intelijen seharusnya dapat mendeteksi senjata yang diduga banyak diselundupkan di Papua sehingga digunakan kelompok bersenjata untuk menyerang warga sipil dan prajurit TNI-Polri.

Sebelumnya ramai diberitakan, sebanyak 31 pekerja proyek jalan Trans Papua yang sedang bekerja membangun jembatan di Kali Yigi dan Kali Aurak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua ditembak gerombolan bersenjata, pada hari Minggu (2/12/2018) malam.

Pihak kepolisian menduga sebanyak 24 orang dibunuh di hari pertama sementara tujuh orang lain yang berusaha menyelamatkan diri di rumah anggota DPRD dijemput dan ditembak mati. Sedangkan satu orang lainnya belum diketahui nasibnya.

--- Simon Leya

Komentar