Breaking News

RESENSI Urgensi Seruan Perang Total Melawan Narkoba 16 Oct 2019 16:52

Article image
Perjalanan memerangi narkoba akan pincang tanpa keterlibatan masyarakat.

 

Oleh Agustinus Tetiro

 

TEROR NARKOBA 8 PENJURU

Penulis: Vivick Tjangkung 

Penerbit: PT Grasindo 

168 Halaman 

ID: 57.19.4.0030

ISBN: 978-602-05-2180-0

Harga: Rp 65.000

 

Buku ini ditulis dengan simpatik, juga ditanggapi secara sangat simpatik oleh para narasumber dan pemberi testimoni yang diundang dan diajak terlibat dalam pengerjaan buku ini. Kita mungkin telah banyak membaca buku yang membahas narkoba. Tetapi, menemukan dan membaca buku tentang pemberantasan narkoba yang ditulis “dengan bahasa yang gaul dan bisa diterima oleh semua pihak” (Irjen Pol Dr Benny Mamoto) mungkin tidak banyak. Salah satu dari yang tidak banyak itu ditulis oleh KomPol Vivick Tjangkung. 

Buku ini ditulis dengan bobot yang sangat baik dan otentik karena diangkat dari pengalaman dan kerja lapangan KomPol Vivick sendiri. Vivick yang dipercaya memimpin Satresnarkoba Polres Metro Jakarta Selatan membuka buku ini dengan sub-judul “Narkoba di Jakarta Selatan” (pp.16-43). Ada ikhtiar pencegahan tiada henti yang diucapkan. Ada berbagai gerakan pencegahan yang dilakukan. 

Vivik mengaku bahwa kerja pencegahan dan pemberantasan narkoba adalah kerja semua elemen masyarakat, tidak hanya kerja polisi. Laporan-laporan masyarakat diakui sangat membantu kerja pencegahan dan pemberantasan distribusi narkoba. 

Menyadari hal itu, dengan bantuan sistem yang dipelajari pada zaman kepemimpinan Gubernur Ahok (Basuki Tjahaja Poernama/BTP), Vivick dan teman-teman menginisiasi laporan publik melalui sistem Qlue. Tidak lupa pula, Vivick dan tim menggandeng para selebritas untuk berperang melawan narkoba di Jakarta Selatan yang memang sangat terkenal sebagai sarang narkoba kelas atas. 

Dari konteks Jakarta Selatan tempatnya bekerja, Vivick mencoba membuat pemetaan yang lebih luas. Ada kisah dan laporan tentang penyelundupan narkoba dalam jumlah yang sangat gigantis (hingga satu ton). Wow! 

Vivick menulis bahwa jalur laut adalah jalur yang paling sering dipakai oleh para penyelundup dari segala penjuru dunia untuk memasok narkoba ke Indonesia. Pengedaran narkoba juga menggunakan mekanisme pasar dengan janji untung yang berlipat ganda. Oleh karena itu, tidak perlu heran bahwa pasar narkoba telah merangsek hingga ke dusun dan pengedarnya telah beranak pinak. 

Menyadari kenyataan itu, Vivick kembali mengaku bahwa “tidak cukup dengan penggerebak” (p.80). Harus ada cara-cara yang lebih canggih untuk memutuskan mata rantai narkoba. 

Menurut Vivick (lihat bab III “Benteng itu Bernama Pencegahan”), pencegahan adalah cara paling baik untuk membentengi diri sendiri dan orang-orang yang kita kasihi dari bahaya narkoba. Dari awal, pengetahuan tentang narkoba harus disosialisasikan dengan cara yang benar dan mengena. Termasuk, mengangkat contoh-contoh pengalaman yang mengenaskan dari orang-orang yang perilakunya berubah lantaran narkoba. 

Melihat kompleksnya masalah narkoba, Vivick mengundang Profesor Dr KH Nasaruddin Umar (Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta) dan Romo Benny Susetyo (Ulama Katolik) untuk turun mengambil bagian dalam penulisan buku ini. Keduanya mempunyai kegelisahan yang sama tentang narkoba. 

“Prof Nasaruddin meminta aparat baik polisi maupun BNN untuk menggandeng ormas Islam. Ada 64 ormas Islam. Masih banyak mubaliq yang belum paham betul daya rusak narkoba. Jika sudah memiliki pengetahuan, para mubaliq ini perlu menggaungkan kembali kepada umat melalui mimbar-mimbar Islam” (p.105)

“Menanamkan pemahaman spiritual takut akan Tuhan, termasuk terkair narkoba, harus dilakukan dengan cara kekinian agar bisa diterima anak muda” (p.109)

Selain agama, Vivick juga berpendapat, masyarakat Indonesia harus bersama-sama melawan narkoba. Membangun kepercayaan antara polisi dan masyarakat harus dilakukan secara transparan. 

Ada berbagai elemen masyarakat yang bisa dan perlu diajak untuk melawan narkoba. Keluarga harus melawan narkoba. Sekolah mesti berkomitmen melawan narkoba. Kampus dengan segala dinamikanya harus juga melawan narkooba sebagai imperatifnya. 

Begitu juga dengan tempat kerja, RT-RW dan tempat hiburan malam harus bersama-sama mengatakan tekad melawan narkoba. Deklarasi anti-narkoba harus bisa dikumandangkan di mana saja kita berada. 

Lebih jauh, Vivick mengatakan bahwa persepsi yang keliru atas tindakan razia dan pemeriksaan urine harus dihentikan. Setiap razia dan pemeriksaan urine adalah cara polisi untuk membantu pemberantasan narkoba. 

Pada prinsipnya, polisi selalu ingin menyelamatkan warga dari bahaya narkoba. Karena, perang kita melawan narkoba dan bukan terhadap korban yang terlibat di dalamnya. Jadi, tanggung jawab untuk membebaskan diri dan sesama dari narkoba haruslah menjadi janji dan komitmen  bersama. 

Buku ini ditutup dengan harapan yang serentak ajakan. “Ratusan ribu polisi bahkan meningkat jadi jutaan sekalipun, tidak akan mampu memberantas narkoba tanpa Anda semua. Perjalanan memerangi narkoba akan pincang tanpa keterlibatan masyarakat. Kondisi ini tentu tidak akan dapat membalap para pengedar, distributor, gembong dan produsen yang berlari kencang. Namun, jika kita bergerak bersama membentengi setiap jengkal di sekitar kita, saya yakin Indonesia semakin perkasa melawan kejahatan kemanusiaan  ini dan bersih dari dampak yang ditimbulkannya” 

So, selamat membaca buku ini dan teruslah berperang melawan narkoba!

 

Penulis adalah jurnalis Berita Satu

Komentar