Breaking News

REGIONAL Viktor: 2025, NTT Akan Dapat Rp 30 Triliun dari Blok Masela 25 Oct 2019 09:59

Article image
Peta lokasi Blok Masela. (Foto: SINDOnews)
Viktor seperti dikutip dari Antara mengatakan, nilai keuntungan yang akan diterima NTT dari pengembangan Blok Marsela diperkirakan mencapai lebih dari Rp 30 tirliun.

KUPANG, IndonesiaSatu.co -- Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Bungtilu Laiskodat, mengemukakan daerah setempat akan mendapat keuntungan sebanyak 5 persen dari pengembangan gas bumi Blok Masela di Kepulauan Tanimbar, Maluku pada 2025.

"Sudah ada persetujuan dari Bapak Presiden (Presiden Joko Widodo) dan Pak Menteri ESDM Ignasius Jonan bahwa 10 persen keuntungan yang diberikan pemerintah pusat kepada daerah Maluku dibagi dua dengan NTT mulai 2025," katanya di Kupang, Jumat.

Viktor seperti dikutip dari Antara mengatakan, nilai keuntungan yang akan diterima NTT dari pengembangan Blok Marsela diperkirakan mencapai lebih dari Rp 30 tirliun.

Menurut dia, nilai tersebut sangat fantastis dan bisa digunakan untuk menuntaskan berbagai kebutuhan infrastruktur di provinsi berbasiskan kepulauan itu.

"Jalan kita, air kita, dan lainnya pasti akan beres karena kita miliki lebih dari Rp 30 triliun, di luar dari sumber pendapatan lainnya," katanya.

Gubernur Viktor mengatakan, NTT juga akan menjadi basis logistik yang akan disalurkan untuk memenuhi kebutuhan usaha Blok Masela.

Karena itu, dia meminta agar kepala daerah terutama di Kabupaten Kupang dan Kota Kupang harus siap dengan membuat perencanaan yang bagus.

"Bupati Kupang, Wali Kota Kupang, juga dari pemerintah provinsi harus siap karena jadi pusat logistik maka akan ada banyak orang yang hadir sini," katanya.

Dia menambahkan, berbagai sektor pendukung untuk kebutuhan usaha Blok Masela harus dipersiapkan secara baik karena peluang keuntungan ekonomi sangat terbuka.

Dia menyebut, bahkan jasa pijat sekali pun harus dipersiapkan secara baik karena para pekerja Blok Masela di antaranya juga berasal dari Jepang yang akrab dengan kebutuhan tersebut.

"Belum lagi orang-orang Jepang hobi makan ikan, makanan pedas, belut, sehingga mereka akan berkunjung ke tempat yang menyediakan itu, ini peluang besar bagi kita," katanya.

--- Simon Leya

Komentar